PT Yulie Sekuritas Indonesia Tbk (YULE) melaporkan laba bersih Rp22,68 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, naik dari Rp17,86 miliar pada periode yang sama tahun lalu, atau tumbuh sekitar 27 persen. Kenaikan laba ini terutama ditopang oleh keuntungan dari transaksi perdagangan efek yang telah direalisasi sebesar Rp65,98 miliar, naik tajam dari Rp22,71 miliar tahun sebelumnya, meski sebagian tergerus oleh kerugian perubahan nilai wajar efek sebesar Rp32,02 miliar. Laba per saham dasar naik dari Rp11,25 menjadi Rp14,29.
Total aset perseroan melonjak 35,31 persen menjadi Rp1,05 triliun per 30 September 2026, dari sebelumnya Rp777,79 miliar per akhir 2025, atau bertambah Rp274,62 miliar. Dalam surat penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia tertanggal 20 Oktober 2026, Direktur Husin Chandra menyebut kenaikan ini terutama berasal dari bertambahnya portofolio efek sebesar Rp177,03 miliar, akibat kenaikan nilai pasar saham dan obligasi yang dipegang perseroan serta pembelian efek baru, dan piutang transaksi perantara perdagangan efek sebesar Rp176,42 miliar yang berasal dari transaksi pada 29 dan 30 September 2026.
Di sisi liabilitas, total utang perseroan melonjak 340 persen menjadi Rp346,58 miliar dari Rp78,77 miliar, naik Rp267,81 miliar. Penyebab utamanya adalah utang transaksi perantara perdagangan efek yang bertambah Rp169,02 miliar, sejalan dengan piutang dari transaksi akhir September tadi, serta tambahan fasilitas pinjaman bank baru sebesar Rp100 miliar yang dicairkan sepanjang 2026. Di saat bersamaan, kas dan setara kas perseroan justru menyusut dari Rp129,57 miliar menjadi Rp45,45 miliar, karena arus kas dari aktivitas operasi berbalik menjadi pengeluaran neto Rp165,39 miliar, dibanding penerimaan neto Rp29,82 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Perseroan juga membayar dividen tunai Rp15,87 miliar pada periode ini, naik dari Rp12,70 miliar tahun lalu.
