Tekanan Utang BUMN Karya Memuncak Jadi Guncangan Pasar
Pola tekanan kas yang Senin masih berkutat di emiten kecil seperti Pos Indonesia, yang mengajukan penundaan bunga sukuk Rp24,12 miliar, melebar Selasa ke tiga BUMN karya sekaligus: PTPP disuspensi BEI, WIKA memanggil rapat pemegang sukuk, dan ekuitas Waskita Karya ambruk 71,7 persen jadi Rp1,04 triliun. Rabu dan Kamis tekanan berlanjut lewat rugi WSBP yang melebar jadi Rp410,8 miliar dengan defisiensi ekuitas Rp2,37 triliun, serta ekuitas negatif baru di LAPD, CANI, dan DIGI. Pola ini memuncak Jumat, bersamaan dengan IHSG yang anjlok 11,57 persen, rupiah melemah ke Rp17.943 per dolar AS, dan gelombang penyusutan saham publik di MBSS, IGAR, serta IPAC yang mengarah ke go private. Arahnya konsisten memberat sepanjang pekan tanpa tanda pembalikan, bergerak dari kasus individual menjadi tekanan yang melibatkan pasar modal secara luas. Yang akan mengujinya adalah hasil tiga rapat pemegang sukuk dan obligasi WIKA pada 19, 20, dan 21 Oktober, hasil RUPSLB kedua WSBP pada 23 Oktober setelah kuorum pertama gagal, serta apakah PTPP akhirnya mendapat restu pemegang obligasinya pada 22 Oktober.