PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) menyampaikan materi Public Expose Tahunan 2026 kepada Bursa Efek Indonesia melalui surat Nomor 372/SP-IX/2026 tanggal 4 September 2026, merujuk pada rencana public expose yang sebelumnya diumumkan lewat surat Nomor 347/SP-VIII/2026 tanggal 26 Agustus 2026. Surat ditandatangani secara elektronik oleh Corporate Secretary ADHI, Siswanto, dan dilengkapi lampiran materi presentasi berjudul Upload_Materi PUBEX 2026_ADHI.pdf.
Materi tersebut memaparkan struktur kepemilikan saham ADHI, yakni 63,7 persen dikuasai pemerintah, 35,7 persen dimiliki publik, dan 0,6 persen berupa saham Seri A Dwiwarna atau saham khusus milik negara. ADHI juga memaparkan struktur grup usahanya yang terdiri dari empat lini bisnis, yaitu Engineering & Construction, Property & Hospitality, Manufacture, serta Investment & Concessions, dengan 13 special purpose vehicle atau perusahaan proyek yang dimilikinya. Dari jumlah itu, 11 perusahaan proyek direncanakan dilepas atau didivestasi secara bertahap hingga 2027, sementara sisanya dipertahankan hingga masa konsesinya berakhir.
Soal proyek berjalan, materi ini mengungkap bahwa proyek LRT Jabodebek dengan nilai kontrak total Rp25,5 triliun sudah diserahterimakan ke pemiliknya, dan ADHI telah menerima pembayaran sebesar Rp23,2 triliun, menyisakan sekitar Rp2,3 triliun yang belum dibayarkan. Untuk proyek MRT Jakarta Fase 2A yang dikerjakan lewat kerja sama Shimizu ADHI Joint Venture, progres pembangunan per Juni 2026 mencapai 93,5 persen untuk paket CP201 (Bundaran HI-Harmoni) dan 67 persen untuk paket CP202 (Harmoni-Mangga Besar).
ADHI juga mengumumkan perluasan bisnis ke Filipina lewat akuisisi proyek Malolos-Clark Railway, perpanjangan Blumentritt, paket CP S-01, dan South Commuter Railway paket CP S-03C, dengan nilai kontrak Rp3,9 triliun yang sumber pendanaannya berasal dari pinjaman Asian Development Bank (ADB). Proyek kereta lain, North-South Railway Project, dikerjakan dalam konsorsium dengan PTPP, dengan porsi ADHI sebesar 51 persen dan PTPP 49 persen.
