PT Agung Menjangan Mas Tbk (AMMS), emiten yang bergerak di pembesaran ikan kerapu laut dan perdagangan hasil perikanan, membukukan pendapatan Rp3,38 miliar pada semester I 2026, turun 28 persen dibandingkan Rp4,70 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Beban pokok pendapatan justru naik dari Rp2,33 miliar menjadi Rp3,30 miliar, sehingga laba kotor perusahaan anjlok dari Rp2,37 miliar menjadi hanya Rp82,2 juta. Setelah dikurangi beban umum dan administrasi Rp1,64 miliar, perusahaan mencatat rugi bersih Rp1,52 miliar pada semester I 2026, berbalik dari laba bersih Rp677,8 juta pada semester I 2025. Rugi per saham tercatat Rp1,26, dibandingkan laba per saham Rp0,56 setahun sebelumnya.
Di sisi neraca, ekuitas atau modal pemegang saham turun dari Rp72,05 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp70,53 miliar per 30 Juni 2026, tergerus oleh rugi berjalan. Total liabilitas justru melonjak 78 persen dibandingkan akhir 2025, dari Rp868,9 juta menjadi Rp1,55 miliar. Dalam surat terpisah ke Bursa Efek Indonesia tertanggal 29 September 2026 yang ditandatangani Direktur Utama Djuna Arif Sasmita, perusahaan menjelaskan kenaikan liabilitas itu dipicu oleh munculnya pos pendapatan diterima di muka senilai Rp680,4 juta, yang tidak ada pada akhir 2025.
Kas dan setara kas perusahaan relatif stabil di Rp6,63 miliar per akhir Juni 2026, turun tipis dari Rp6,67 miliar di akhir 2025. Arus kas dari aktivitas operasi masih negatif Rp44,1 juta, meski membaik dibandingkan minus Rp1,64 miliar pada semester I 2025. Perusahaan tidak mencatat aktivitas investasi maupun pendanaan baru pada periode ini, berbeda dari semester I 2025 saat AMMS mengeluarkan uang muka Rp2,5 miliar untuk pembuatan keramba kerapu. Perusahaan juga mencatat perubahan anggaran dasar terkait peningkatan modal dasar yang disahkan Kementerian Hukum dan HAM pada 4 Agustus 2026.
