PEFINDO menegaskan peringkat idAAA untuk PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau APAI dengan prospek stabil, berlaku untuk periode 8 September 2026 hingga 1 September 2027. Peringkat idAAA adalah level tertinggi yang diberikan PEFINDO, menandakan kemampuan debitur memenuhi kewajiban utang jangka panjang dinilai paling baik dibanding penerbit utang lain di Indonesia. Sembilan instrumen surat utang dan sukuk yang diterbitkan APAI ikut mendapat peringkat setara, idAAA untuk obligasi dan idAAA(sy) untuk sukuk, dengan total nilai pokok sekitar Rp2,22 triliun. Rinciannya: Obligasi I Angkasa Pura I Tahun 2016 Seri C senilai Rp1,025 triliun jatuh tempo 22 November 2026, Obligasi Berkelanjutan I Tahap I 2021 Seri C senilai Rp280,4 miliar jatuh tempo 8 September 2028, Seri D senilai Rp497 miliar jatuh tempo 8 September 2031, Obligasi Berkelanjutan II Tahap I 2024 Seri A senilai Rp8,01 miliar jatuh tempo 5 Juli 2027, Seri B senilai Rp50 miliar jatuh tempo 5 Juli 2031, Seri C senilai Rp196,75 miliar jatuh tempo 5 Juli 2034, Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap I 2021 Seri C senilai Rp52 miliar jatuh tempo 8 September 2028, Seri D senilai Rp14 miliar jatuh tempo 8 September 2031, serta Sukuk Ijarah I Tahun 2016 Seri C senilai Rp96 miliar jatuh tempo 22 November 2026.

PEFINDO menyebut peringkat APAI terutama ditopang kemungkinan dukungan kuat dari induk usahanya, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, yang menguasai hampir 100 persen saham APAI, sementara Pemerintah Indonesia memegang dua lembar saham Dwiwarna. Secara mandiri, posisi APAI juga ditopang statusnya sebagai operator bandara terbesar di Indonesia dengan 37 bandara yang dikelola sejak perusahaan ini terbentuk dari penggabungan dua operator bandara milik negara pada September 2024. PEFINDO mencatat peringkat bisa turun jika dukungan InJourney melemah secara signifikan atau kepentingan APAI bagi induknya menurun.

Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2026 yang belum diaudit, total aset APAI tercatat Rp90,9 triliun, hampir sama dengan posisi akhir 2025 sebesar Rp90,5 triliun. Namun ekuitas turun dari Rp37,15 triliun pada akhir Desember 2025 menjadi Rp30,42 triliun per Juni 2026, sementara total utang berbunga naik dari Rp41,87 triliun menjadi Rp42,35 triliun. Rasio utang terhadap ekuitas naik dari 1,1 kali menjadi 1,4 kali dalam periode tersebut. Laba bersih semester pertama 2026 tercatat Rp619,2 miliar, jauh di bawah laju laba bersih setahun penuh 2025 yang mencapai Rp7,86 triliun.

Sesuai POJK Nomor 24/POJK.04/2021, APAI wajib melaporkan ke PEFINDO setiap informasi atau fakta material yang dapat memengaruhi hasil pemeringkatan paling lambat dua hari kerja sejak kejadian itu muncul. Sejak 2023, peringkat APAI konsisten berada di level idAAA dengan prospek stabil, naik dari idAA+ pada 2022. Hasil pemantauan ini juga disampaikan APAI kepada OJK dan Bursa Efek Indonesia pada 10 September 2026.