PT Astra International Tbk (ASII) menyampaikan hasil public expose tahunan 2026 kepada Bursa Efek Indonesia, setelah menggelar acara pada 10 September 2026 yang dihadiri 158 peserta eksternal di luar jajaran manajemen dan karyawan perseroan. Dalam sesi tanya jawab, Presiden Direktur Rudy menjelaskan Astra tengah menjalankan penawaran tender sukarela (voluntary tender offer) atas saham anak usahanya, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), dengan harga penawaran Rp3.600 per saham. Perseroan menargetkan tambahan kepemilikan 4,95 persen, dari sekitar 80 persen menjadi sekitar 84,95 persen, dengan perkiraan total dana yang dikeluarkan mencapai Rp858 miliar. Jika target tercapai, kontribusi tambahan terhadap laba Astra diperkirakan sekitar Rp110 miliar hingga Rp115 miliar, mengacu pada estimasi laba AUTO saat ini di kisaran Rp2,2 triliun hingga Rp2,3 triliun. Direktur Gita Tiffani Boer, yang juga menjabat corporate secretary, menambahkan AUTO akan tetap memenuhi syarat batas minimum saham beredar publik (free float) sebesar 15 persen dan perseroan tidak berencana mengubah statusnya sebagai perusahaan tercatat.
Terkait belanja modal, Rudy memaparkan dari total rencana investasi 2026 sebesar Rp35,6 triliun, realisasi hingga semester pertama sudah mencapai Rp16,9 triliun. Sekitar Rp5,2 triliun di antaranya merupakan belanja modal rutin, sementara Rp11,7 triliun terutama digunakan untuk akuisisi tambang emas PT Arafura Surya Alam oleh grup PT United Tractors Tbk. Tersisa sekitar Rp19 triliun anggaran untuk paruh kedua tahun ini, yang mayoritas dialokasikan ke tiga bisnis inti Astra yaitu otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat, yang secara gabungan menyumbang sekitar 90 persen laba perseroan. Soal dividen, manajemen menegaskan akan mempertahankan rasio pembayaran di kisaran 45-50 persen seperti tahun-tahun sebelumnya, meski kinerja tahun berjalan tercatat turun dibanding tahun lalu, dan membuka opsi pembelian kembali saham secara berkala jika valuasi dinilai menarik.
Direktur Frans Kesuma mengungkapkan laba bersih segmen Solusi Pertambangan dan Alat Berat (MSHE) turun 46 persen pada semester pertama 2026, dipicu pembatasan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional yang semula dipangkas 25 persen dari tahun lalu, sebelum direvisi naik 5 persen sehingga penurunan bersih menjadi sekitar 20 persen. Karena volume produksi tidak bisa ditingkatkan sesuai kuota tersebut, pendapatan segmen ini diperkirakan ikut turun, sehingga Astra berfokus pada efisiensi biaya operasi pertambangan untuk menahan dampaknya terhadap laba. Astra saat ini memiliki dua aset nikel dan tetap mencari tambahan aset sesuai kriteria investasinya, namun mengakui persaingan di industri nikel domestik sudah ketat, sementara ekspansi ke geothermal dinilai berisiko tinggi dan bergantung pada kebijakan pemerintah.
Mengenai pasar kendaraan, Direktur Gidion Hasan menyebut penjualan roda empat nasional pada Agustus 2026 mencapai sekitar 81 ribu unit, tertinggi sepanjang tahun ini, dengan kumulatif Januari-Agustus hampir 600 ribu unit atau tumbuh sekitar 20 persen dibanding periode sama tahun lalu. Astra masih mempertahankan pangsa pasar roda empat sekitar 50 persen di tengah persaingan dari pemain baru, dan meyakini proyeksi Gaikindo sebesar 850 ribu unit sepanjang 2026 bisa tercapai. Direktur Thomas Wijaya menambahkan pasar roda dua nasional selama Januari-Agustus mencapai sekitar 4,3 juta unit, tumbuh 2,2 persen, dengan pangsa pasar Astra Honda bertahan di sekitar 77 persen, sementara Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia memproyeksikan pasar tahun ini mencapai 6,4 juta hingga 6,7 juta unit meski ada risiko cuaca El Nino di akhir tahun.
