PT Avia Avian Tbk (AVIA) melaporkan penjualan neto Rp6,92 triliun untuk sembilan bulan pertama 2026, naik 16,7 persen dari Rp5,93 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Laba bersih yang menjadi hak pemegang saham naik 16,4 persen menjadi Rp1,38 triliun dari Rp1,19 triliun, sehingga laba per saham naik dari Rp19,75 menjadi Rp23,42. Laba usaha juga melonjak dari Rp1,28 triliun menjadi Rp1,65 triliun pada periode yang sama.

Dalam surat penjelasan ke Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia tertanggal 29 Oktober 2026, manajemen menjelaskan total liabilitas naik Rp436,1 miliar atau 28,24 persen menjadi Rp1,98 triliun dari Rp1,54 triliun di akhir 2025. Kenaikan ini terutama berasal dari utang usaha yang naik Rp232,1 miliar seiring meningkatnya transaksi pembelian, serta beban akrual yang naik Rp202,3 miliar, terdiri dari akrual promosi dan pemasaran naik Rp184,2 miliar, akrual ongkos angkut naik Rp22,4 miliar sejalan dengan kenaikan penjualan, dan akrual komisi penjualan justru turun Rp4,7 miliar. Total aset naik menjadi Rp12,06 triliun dari Rp11,08 triliun, didorong kas dan setara kas yang lebih dari dua kali lipat menjadi Rp3,68 triliun dari Rp1,65 triliun, sementara investasi jangka pendek turun menjadi Rp953,6 miliar dari Rp2,57 triliun setelah perusahaan mencairkan sebagian surat utang negara yang dipegangnya.

Dari sisi ekuitas, perusahaan membagikan dividen Rp709,2 miliar sepanjang sembilan bulan 2026, naik dari Rp665,8 miliar pada periode sebelumnya, dan membeli kembali saham treasuri senilai Rp93,9 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan pembelian kembali Rp506,3 miliar pada periode yang sama 2025. Laporan ini juga mencatat pelepasan investasi pada entitas anak, dengan salah satu anak usaha, PT Multipro Paint Indonesia, kini tercatat memiliki porsi kepemilikan 0 persen. Arus kas dari aktivitas operasi naik menjadi Rp1,69 triliun dari Rp1,19 triliun, sementara arus kas dari aktivitas investasi berbalik positif Rp1,22 triliun dari sebelumnya negatif Rp162,2 miliar, setelah perusahaan mencairkan Rp1,52 triliun investasi pada surat utang negara.