Bahlil Ubah Aturan, PNBP Kini Lebih Penting dari Produksi
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menata batu bara dan nikel lewat BMKS dan ekspor satu pintu Danantara SDI, produksi tak lagi jadi ukuran utama dibanding penerimaan negara.
21 September 2026Dirangkum dari tvOneNews
Foto: tvOneNews
Kementerian ESDM mengubah cara mengelola komoditas batu bara dan nikel, tidak lagi semata bertumpu pada besar-kecilnya volume produksi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut perubahan ini ditempuh lewat pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) serta mekanisme ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (SDI). Alasannya, selama ini harga nikel dan batu bara Indonesia banyak ditentukan oleh pembeli atau pihak dari luar negeri, sehingga hasil penjualan komoditas strategis nasional dinilai belum optimal.
Bahlil mengklaim penataan keseimbangan pasokan dan permintaan yang mulai dijalankan pemerintah membuat harga batu bara Indonesia kini lebih diperhitungkan di pasar internasional. Ia juga menyebut harga nikel tidak lagi mudah dipermainkan pihak tertentu, meski tidak merinci mekanisme pengendalian harga tersebut atau kapan BMKS mulai beroperasi penuh.
Angka BPSNilai ekspor
26,2 miliar US$Juli 2026
Nilai barang yang dijual Indonesia ke luar negeri. Naik 0,76 miliar US$ dibanding Juni 2026. Posisinya di atas rata-rata 12 bulan terakhir (24.007,8).
Sumber: Badan Pusat Statistik, Nilai Ekspor. Diolah The Signal.
Sebagai gambaran, produksi batu bara nasional sepanjang 2025 tercatat 817,48 juta ton, menurut data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM. Produksi Januari-Juli 2026 baru mencapai 423,71 juta ton, dengan rata-rata sekitar 60,5 juta ton per bulan, lebih rendah dibanding rata-rata bulanan 2025 yang sekitar 68 juta ton. Meski produksi melambat, Bahlil menyebut penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor batu bara justru meningkat.
Bahlil menegaskan fokus pemerintah bukan lagi mengejar volume produksi setinggi mungkin, melainkan memaksimalkan pendapatan negara dari sektor tambang. "Artinya, kita ingin produksinya tidak terlalu banyak, tapi pendapatan negara itu yang paling penting," ujar Bahlil di Balai Sudirman, Jakarta, Senin (21/9/2026).
Ada yang ingin ditanyakan soal berita ini? Bot kami menjawab dari arsip The Signal, lengkap dengan tautan artikelnya.Tanya ke bot The Signal
Mau tahu arahnya, bukan cuma beritanya?Tiap malam hari kerja, satu tulisan yang menjawab ke mana ekonomi bergerak hari itu dan apa yang akan menentukan arahnya. Plus angka pembanding yang tidak ada di situs. Gratis.
Signal+
Ke mana ekonomi bergerak hari ini, dan apa artinya buat keputusanmu besok.
Dikirim tiap malam hari kerja setelah seluruh berita hari itu dibaca.
Formulir pendaftarannya membutuhkan
JavaScript; kalau tidak muncul, daftar langsung lewat halaman Buttondown
kami.