PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menggelar Public Expose Tahunan 2026 secara virtual pada Kamis, 10 September 2026 pukul 09.05 sampai 09.45 WIB, dalam rangkaian Public Expose Live yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia. Acara dihadiri 189 peserta dari investor ritel dan institusi, dilanjutkan sesi konferensi pers yang diikuti 19 media. Paparan kinerja keuangan per 30 Juni 2026 dan inisiatif strategis 2026 disampaikan oleh Direktur Utama Nixon L.P. Napitupulu bersama Direktur Treasury & International Banking Venda Yuniarti.

Dalam sesi tanya jawab, manajemen menyebut target dividend payout ratio tahun depan masih mengacu Rencana Bisnis Bank sebesar 20 persen, namun angka pastinya baru akan ditentukan sesuai aspirasi pemegang saham di Rapat Umum Pemegang Saham. BTN juga menegaskan tidak berencana membagikan dividen interim, mengikuti pola lima tahun terakhir yang juga tanpa dividen interim. Soal kredit, manajemen mengonfirmasi pertumbuhan kredit sudah mencapai 11,2 persen secara tahunan per Juni 2026, melampaui target awal 8-10 persen, tetapi tidak berencana merevisi target karena kenaikan itu banyak disumbang akuisisi portofolio Kredit Pensiunan dari PT Bank SMBC Indonesia Tbk. BTN menyatakan akan lebih selektif menyalurkan kredit di beberapa segmen, termasuk KPR untuk masyarakat berpenghasilan rendah yang pertumbuhannya melambat.

Terkait unit usaha syariah yang telah dipisah menjadi PT Bank Syariah Nasional (BSN), manajemen menyebut kinerja laba, biaya dana, dan kredit bermasalah BSN tetap baik pasca spin-off. BSN disebut sudah menjalin kerja sama dengan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, dan dalam waktu satu tahun sejak berpisah dari BTN sudah menjadi bank syariah terbesar kedua di Indonesia. Manajemen memperkirakan rasio BOPO dan cost-to-income BSN akan terus turun seiring skala bisnis syariah membesar.