Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Todotua Pasaribu meresmikan pembangunan Bioethanol Development Center di Tegineneng, Lampung, hasil kerja sama dengan Pertamina New & Renewable Energy dan Toyota Motor Manufacturing Indonesia. Fasilitas ini menjadi langkah awal pemerintah membangun industri bioetanol dalam negeri, yang selama ini masih sangat bergantung pada impor bahan bakar minyak.
Kebutuhan ini muncul karena konsumsi bensin nasional diproyeksikan naik dari sekitar 37,3 juta kiloliter pada 2025 menjadi 39,7 juta kiloliter pada 2029, sementara kapasitas produksi dalam negeri belum memadai. Untuk program bensin campuran E5, yakni bensin yang dicampur lima persen bioetanol, kebutuhan bahan bakunya diperkirakan mencapai 1,7 sampai 2 juta kiloliter per tahun, jauh di atas kapasitas produksi bioetanol fuel-grade yang tersedia saat ini.
Pada tahap awal, fasilitas di Lampung ini baru berkapasitas 60 kiloliter dan menggunakan berbagai bahan baku seperti molases, sorgum, dan limbah biomassa. Pemerintah menargetkan fasilitas mulai berproduksi paling lambat Desember 2026, dan jika perhitungan biaya produksinya dinilai kompetitif, kapasitas akan ditingkatkan menjadi 60 ribu kiloliter pada 2027.
Skema ini juga dirancang melibatkan petani tebu, singkong, dan sorgum melalui koperasi sebagai pemasok bahan baku, dengan fasilitas di Lampung berperan sebagai penyerap hasil panen. Acara peluncuran turut dihadiri Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Bupati Pesawaran Nanda Indira Bastian, serta sejumlah eksekutif Pertamina dan Toyota.
