PT Newport Marine Services Tbk (BOAT) menyampaikan tanggapan resmi kepada Bursa Efek Indonesia atas surat permintaan penjelasan Nomor S-11917/BEI.PP1/09-2026 tanggal 11 September 2026, yang mempertanyakan sejumlah pos dalam laporan keuangan per 31 Desember 2025 dan 30 Juni 2026. Tanggapan yang ditandatangani Ahmad Wisya Pratama selaku Direktur merangkap Sekretaris Perusahaan ini mencakup penjelasan atas piutang usaha, uang muka, penjualan aset tetap yang merugi, refinancing pinjaman bank, kenaikan utang usaha, dan penurunan pendapatan kapal milik sendiri.

Soal piutang, perseroan menjelaskan piutang kepada GUS Co Ltd naik karena pada kuartal I 2026 GUS menyewa 2 unit kapal BOAT, dari sebelumnya hanya 1 unit pada periode laporan Desember 2025. Sementara piutang kepada PT Suasa Benua Sukses (SBS) naik karena SBS sempat melunasi lebih cepat pada periode Desember 2025 dibanding Juni 2026. Perseroan menyebut kedua piutang itu lancar, dengan pembayaran yang sudah diterima hingga 30 Agustus 2026 masing-masing sebesar US$1.308.374 dari GUS dan US$519.339 dari SBS, dengan rata-rata masa penagihan 67 hari untuk GUS dan 84 hari untuk SBS. Piutang ini juga menjadi jaminan fasilitas pinjaman bank, sehingga perseroan menerapkan verifikasi kredit dan batas plafon per pelanggan.

Perseroan juga mengakui kas dan setara kasnya per 30 Juni 2026 sekitar 6 kali lebih kecil dibandingkan utang usahanya, yang menurut penjelasan mereka timbul dari meningkatnya aktivitas sewa kapal charter dari pemilik kapal lain, dengan jatuh tempo pembayaran 60 hingga 90 hari. Untuk mengatasinya, perseroan menyebut langkah seperti mempercepat penagihan piutang, memprioritaskan pembayaran utang yang jatuh tempo, dan menjaga Current Ratio minimal 1 kali. Perseroan juga baru merefinancing fasilitas pinjaman dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) ke PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk berupa fasilitas modal kerja Rp9 miliar untuk membayar biaya charter kapal lain dan uang muka operasional kapal sendiri, dengan syarat menjaga Current Ratio minimal 1 kali, rasio utang terhadap ekuitas maksimal 2,5 kali, dan rasio kemampuan bayar utang minimal 100 persen. Selain itu, piutang kepada pihak berelasi NOS terkait biaya operasional kapal NMS Sapphire akan dilunasi sebagian oleh NOS pada kuartal IV 2026, sementara pelanggan Cranium Offshore Pte Ltd berkomitmen melunasi piutangnya sebelum tutup buku akhir 2026.

Di sisi operasional, tingkat utilisasi armada kapal milik sendiri pada semester I 2026 tercatat 78 persen, turun 6 poin persentase dari periode yang sama tahun lalu, karena 2 unit kapal Anchor Handling Tug Supply (AHTS) sedang menjalani perawatan sekaligus pemasangan sistem Dynamic Positioning baru. Perseroan berencana memperluas peluang komersial di Asia Tenggara untuk mendongkrak utilisasi. Perseroan juga mencatat kerugian dari penjualan dua kendaraan, Alphard 2.5G A/T dan Mazda CX9 FWD, akibat selisih nilai buku dengan harga jual serta perbedaan mata uang fungsional dolar AS dengan mata uang transaksi rupiah, yang tercatat pada akun penghasilan usaha lainnya neto. Adapun kontrak dengan pelanggan utama GUS Co Ltd berlaku sampai 31 Desember 2026 dengan opsi perpanjangan 30 hari.