BUMDes Panjunan di Kecamatan Sukodono mengubah lahan kosong menjadi greenhouse budi daya melon hidroponik yang sekaligus difungsikan sebagai destinasi wisata petik buah. Langkah ini menarik karena menunjukkan bagaimana dana desa bisa diarahkan ke usaha bernilai tambah, bukan sekadar simpan pinjam, sekaligus membuka akses melon premium dengan harga lebih terjangkau bagi warga sekitar.
Direktur BUMDes Panjunan, Syaiful Soemarsono, menjelaskan pembangunan greenhouse seluas 8 x 17 meter persegi ini menggunakan sekitar Rp190 juta dana BUMDes, yang dialokasikan untuk bangunan, gudang, greenhouse, material tanam, dan modal kerja. Ia menyebut proyek ini sejalan dengan program ketahanan pangan pemerintah yang mendorong swasembada pangan dan pemerataan akses gizi. Di dalam greenhouse itu ditanam empat varietas melon, yaitu Dalmatian, Sweet Lavender, Sweet Golden, dan Minion.
Sekali panen, greenhouse ini menghasilkan hingga 400 buah melon dengan bobot rata-rata 1,5 kilogram per buah, atau total sekitar 600 kilogram, dengan siklus panen setiap tiga bulan dan masa petik berlangsung sekitar tiga minggu. Harga jual bervariasi per varietas, Dalmatian dibanderol Rp30 ribu per kilogram, Sweet Lavender dan Sweet Golden masing-masing Rp27 ribu per kilogram, serta Minion Rp25 ribu per kilogram. Menurut Syaiful, seluruh hasil panen selalu terjual habis melalui skema wisata petik, di mana pengunjung memetik sendiri lalu membayar sesuai berat buah yang diambil.
Syaiful menambahkan kendala utama budi daya ini bukan hama, melainkan jamur yang muncul akibat cuaca bediding, yaitu kondisi suhu udara yang terasa lebih dingin dari biasanya. Untuk buah yang tidak masuk grade utama, BUMDes tetap menyalurkannya ke pengepul, sementara hasil kualitas terbaik dipasarkan lewat distributor dan reseller dengan brand sendiri.
