PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) menyampaikan penjelasan resmi kepada Bursa Efek Indonesia menyusul surat permintaan penjelasan Bursa No. S-12336/BEI.PP3/09-2026 tertanggal 23 September 2026. Tanggapan itu dikirim melalui surat bernomor 140/LCM-DOC/CDI/IX/2026 tertanggal 25 September 2026, ditandatangani oleh Direktur Merly, dan mencakup dua hal utama yang dipertanyakan Bursa yaitu realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum (IPO) dan sejumlah pos dalam laporan keuangan Perseroan.
Dari total dana hasil IPO sebesar Rp2,37 triliun, Perseroan baru merealisasikan Rp1,86 triliun atau 78,45 persen sampai dengan Juni 2026, menyisakan Rp511,05 miliar yang belum terpakai. Seluruh sisa dana itu berasal dari pos penyetoran modal ke anak usaha PT Chandra Samudera Port (CSP), yang baru terealisasi 52,11 persen dari rencana Rp1,48 triliun. CDIA menjelaskan, penyetoran ke CSP dilakukan bertahap mengikuti kebutuhan proyek pembangunan fasilitas PT Chandra Cilegon Port, yang mencakup tangki penyimpanan dan pipa ethylene, dengan target rampung pada 2027. Sembari menunggu disalurkan, sisa dana ditempatkan di rekening giro sesuai ketentuan POJK No. 40 Tahun 2025 tentang penggunaan dana hasil penawaran umum.
Soal laporan keuangan, CDIA mengonfirmasi ekuitas Perseroan per Juni 2026 turun 2,53 persen dibanding akhir 2025, dipicu oleh laba tahun berjalan yang anjlok dari US$76 juta menjadi US$19 juta. Perseroan beralasan penurunan itu terutama berasal dari lebih rendahnya keuntungan non-operasional dibanding periode sebelumnya, sementara pendapatan usaha inti masih tumbuh 22,8 persen dan laba bruto naik 2,8 persen. Di sisi beban, beban pokok pendapatan naik 30,86 persen, beban penjualan melonjak 257,91 persen, beban umum dan administrasi naik 105,35 persen, dan beban bunga naik 65,90 persen akibat pemanfaatan fasilitas pinjaman bank untuk investasi. Liabilitas sewa turun 83,58 persen karena penghentian pengakuan aset hak-guna di salah satu anak usaha segmen logistik, sementara aset hak-guna Perseroan pada akhir 2025 justru melonjak dari US$86 ribu menjadi US$4 juta akibat penambahan sewa baru di segmen yang sama. Pendapatan diterima di muka juga naik 205,48 persen sepanjang 2025, terutama didorong aktivitas di segmen energi.
Perseroan menyatakan belum memiliki rencana tindakan korporasi material dalam 12 bulan ke depan dan tidak ada informasi material lain yang belum diungkapkan ke publik.
