PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA), produsen komponen otomotif dan sepeda motor, melaporkan penjualan neto Rp5,10 triliun untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, naik 16 persen dibanding Rp4,39 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba bruto tercatat Rp857,33 miliar, naik 12 persen dari Rp765,78 miliar. Setelah dikurangi beban penjualan, beban umum dan administrasi, serta beban bunga, laba bersih perseroan mencapai Rp487,63 miliar, naik 13,9 persen dari Rp428,11 miliar pada September 2025.
Dari sisi posisi keuangan, total aset perusahaan naik 11,5 persen menjadi Rp4,78 triliun per akhir September 2026, dari Rp4,29 triliun di akhir 2025. Kas dan setara kas bertambah 21 persen menjadi Rp716,70 miliar. Selama sembilan bulan ini, perseroan membagikan dividen tunai Rp329,41 miliar, melonjak 62,8 persen dari Rp202,35 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, ditambah pembayaran dividen Rp13,12 miliar dari anak usaha kepada pemegang saham non-pengendali. Ekuitas total naik tipis 4,9 persen menjadi Rp3,08 triliun.
Dalam surat terpisah kepada Bursa Efek Indonesia, manajemen menjelaskan beberapa pos yang berubah lebih dari 20 persen sesuai aturan BEI. Kenaikan piutang usaha disebut terutama berasal dari sejumlah pelanggan, antara lain PT Astra Honda Motor, Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Yamaha Indonesia Motor, Chemco Harapan Nusantara, dan Radita Autoprima, meski rincian nilai per pelanggan berasal dari dokumen hasil pindaian sehingga akurasinya perlu dikonfirmasi lebih lanjut. Utang bank jangka panjang naik 46,9 persen menjadi Rp255,92 miliar, didorong tambahan pinjaman dari Bank CIMB Niaga, sementara perseroan membayar sebagian utang kepada Bank Danamon Indonesia dan Bank Central Asia. Utang usaha juga naik, dengan kenaikan dari pemasok seperti PT Indowire, SWS Logistic & Marketing, dan PT Ewindo.
