Ekspor produk sawit Indonesia anjlok 28,14 persen pada Mei 2026 dibandingkan April, dari 2,78 juta ton menjadi hanya 1,99 juta ton. Penurunan ini membuat stok minyak sawit mentah (CPO) nasional menumpuk hingga 3,04 juta ton, menurut data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Kondisi ini penting diperhatikan karena sawit adalah salah satu andalan devisa ekspor Indonesia, dan penumpukan stok berpotensi menekan harga di tingkat petani maupun pabrik jika berlanjut.

Produksi CPO pada Mei tercatat 4,17 juta ton, turun 7,01 persen dari April, sementara produksi minyak inti sawit (PKO) turun menjadi 387 ribu ton. Konsumsi dalam negeri ikut turun 2,98 persen menjadi 2,08 juta ton, terutama karena penyerapan untuk biodiesel yang turun dari 1,14 juta ton menjadi 1,04 juta ton, meski konsumsi untuk pangan dan oleokimia justru naik tipis. Karena penurunan ekspor jauh lebih dalam ketimbang penurunan produksi dan konsumsi, stok akhirnya bertambah.

Angka BPSNilai ekspor
26,2 miliar US$Juli 2026

Nilai barang yang dijual Indonesia ke luar negeri. Naik 0,76 miliar US$ dibanding Juni 2026. Posisinya di atas rata-rata 12 bulan terakhir (24.007,8).

Februari 2024: 19,3 miliar US$Maret 2024: 22,6 miliar US$April 2024: 19,7 miliar US$Mei 2024: 22,4 miliar US$Juni 2024: 21,1 miliar US$Juli 2024: 22,5 miliar US$Agustus 2024: 23,6 miliar US$September 2024: 22,2 miliar US$Oktober 2024: 24,8 miliar US$November 2024: 24,1 miliar US$Desember 2024: 23,6 miliar US$Januari 2025: 21,4 miliar US$Februari 2025: 21,9 miliar US$Maret 2025: 23,2 miliar US$April 2025: 20,7 miliar US$Mei 2025: 24,6 miliar US$Juni 2025: 23,4 miliar US$Juli 2025: 24,7 miliar US$Agustus 2025: 24,9 miliar US$September 2025: 24,7 miliar US$Oktober 2025: 24,2 miliar US$November 2025: 22,5 miliar US$Desember 2025: 26,3 miliar US$Januari 2026: 22,2 miliar US$Februari 2026: 22,2 miliar US$Maret 2026: 22,5 miliar US$April 2026: 25,3 miliar US$Mei 2026: 23,2 miliar US$Juni 2026: 25,5 miliar US$Juli 2026: 26,2 miliar US$FebMeiAguNovFebMeiAguNovFebMeiJul20242025202626.29019.349Agustus 2025: 24,9 miliar US$September 2025: 24,7 miliar US$Oktober 2025: 24,2 miliar US$November 2025: 22,5 miliar US$Desember 2025: 26,3 miliar US$Januari 2026: 22,2 miliar US$Februari 2026: 22,2 miliar US$Maret 2026: 22,5 miliar US$April 2026: 25,3 miliar US$Mei 2026: 23,2 miliar US$Juni 2026: 25,5 miliar US$Juli 2026: 26,2 miliar US$AguOktDesFebAprJunJul2025202626.29022.156

Sumber: Badan Pusat Statistik, Nilai Ekspor. Diolah The Signal.

Penurunan ekspor terjadi hampir merata ke berbagai negara tujuan: ke China turun 164 ribu ton (30 persen), India turun 124 ribu ton (60 persen), Afrika turun 140 ribu ton (36 persen), Amerika Serikat turun 78 ribu ton (37 persen), Malaysia turun 49 ribu ton (36 persen), dan Uni Eropa turun 26 ribu ton (5 persen). Satu-satunya kenaikan tercatat untuk tujuan Rusia, naik 216 persen menjadi 86 ribu ton. Nilai ekspor sawit pada Mei turun 26,3 persen menjadi US$2,49 miliar, sejalan dengan harga rata-rata CPO di pasar Rotterdam yang melemah 7,2 persen menjadi US$1.453 per ton.

Meski merosot dalam sebulan terakhir, kinerja kumulatif Januari-Mei 2026 masih tumbuh dibandingkan periode sama tahun lalu. Produksi naik 10,68 persen menjadi 25,01 juta ton, konsumsi dalam negeri naik 5,33 persen menjadi 10,74 juta ton, dan ekspor naik 10,26 persen menjadi 13,32 juta ton dengan nilai US$15,53 miliar, naik 13,82 persen dari tahun sebelumnya. Rata-rata harga CPO di Rotterdam sepanjang lima bulan pertama tahun ini juga lebih tinggi, yakni US$1.417 per ton dibandingkan US$1.186 per ton pada periode yang sama tahun 2025.