Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur membuat harga minyak dunia naik turun tak menentu, memunculkan pertanyaan apakah harga BBM bersubsidi ikut terkerek. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi, sembari mencari tambahan pasokan minyak mentah dan mendorong hilirisasi agar nilai tambah sumber daya alam lebih banyak dinikmati di dalam negeri.

Dalam pidato di ajang Innovation Technology for Social and Environmental Awards 2026 di Jakarta, Senin (14/9), Bahlil menyebut kebutuhan BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi minyak dalam negeri hanya sekitar 600.000 hingga 610.000 barel per hari. Kesenjangan itu membuat pemerintah bergantung pada pasokan dari luar negeri, termasuk lewat kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Rusia belum lama ini untuk menjajaki kerja sama pasokan minyak mentah jangka panjang.

Bahlil menegaskan harga BBM bersubsidi tidak akan dinaikkan berapa pun pergerakan harga minyak dunia, dengan alasan menjaga daya beli masyarakat. Ia juga menyinggung hasil kebijakan larangan ekspor bijih nikel mentah: nilai ekspor produk nikel naik dari sekitar US$3,3 miliar hingga US$3,4 miliar per tahun pada 2017-2018 menjadi US$33 miliar pada 2023.

Meski begitu, Bahlil mengakui manfaat hilirisasi belum merata dirasakan daerah penghasil tambang. Ke depan, pengelola smelter akan diwajibkan bermitra dengan pengusaha lokal, UMKM, dan koperasi, dengan dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Investasi Danantara, agar perputaran ekonomi dari sumber daya daerah dikuasai masyarakat setempat.