PT KB Finansia Multi Finance (FMFN), perusahaan pembiayaan konsumen yang mencatatkan obligasi di Bursa Efek Indonesia, menyampaikan laporan keuangan interim auditan untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026. Auditor dari Kantor Akuntan Publik Mirawati Sensi Idris, anggota jaringan Moore Global, memberikan opini wajar tanpa modifikasian dengan partner penanggung jawab Denny Susanto. Perusahaan membukukan rugi bersih Rp76,09 miliar pada semester pertama 2026, membaik dibanding rugi Rp319,40 miliar pada periode sama tahun lalu, namun ekuitas justru anjlok dari Rp128,14 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp18,78 miliar per 30 Juni 2026. Penurunan ekuitas ini juga dipicu kerugian aktuarial program imbalan pasti karyawan sebesar Rp28,04 miliar dan penurunan nilai wajar aset keuangan Rp14,58 miliar. Auditor menyoroti dua hal audit utama terkait cadangan kerugian penurunan nilai piutang pembiayaan sebesar Rp222,82 miliar dan tagihan anjak piutang Rp1,19 miliar, karena gabungan keduanya mewakili 75,87% dari total aset perusahaan.
Dalam surat penjelasan terpisah kepada bursa terkait perubahan lebih dari 20% pada pos aset dan liabilitas, Direktur Utama Peter Halim mengungkapkan total aset perusahaan turun 23,49% dari Rp4,76 triliun menjadi Rp3,64 triliun, sementara total liabilitas turun 21,78% dari Rp4,63 triliun menjadi Rp3,62 triliun. Penurunan aset terutama berasal dari piutang pembiayaan bersih yang menyusut 26,91% dari Rp3,64 triliun menjadi Rp2,66 triliun, sejalan dengan piutang pembiayaan bruto yang turun dari Rp4,56 triliun menjadi Rp3,33 triliun. Di sisi liabilitas, surat berharga yang diterbitkan anjlok 88,06% dari Rp567,05 miliar menjadi Rp67,72 miliar setelah perusahaan melunasi Obligasi II KB Finansia Multi Finance Tahun 2023 Seri B senilai Rp500 miliar yang jatuh tempo pada 27 Juni 2026. Pinjaman yang diterima juga turun 11,83% menjadi Rp3,13 triliun karena pembayaran pinjaman selama semester ini, Rp1,90 triliun, lebih besar dari penerimaan pinjaman baru sebesar Rp1,48 triliun.
Perusahaan juga memangkas target penyaluran pembiayaan baru dalam Rencana Bisnis Tahunan 2026 menjadi Rp2,15 triliun, turun 45,98% dibanding realisasi penyaluran tahun 2025 yang mencapai Rp3,98 triliun. Sampai akhir Juni 2026, realisasi penyaluran pembiayaan baru baru mencapai Rp982,29 miliar, atau 45,68% dari target yang sudah dipangkas tersebut. Jumlah kantor cabang perusahaan turut berkurang dari 116 menjadi 103 unit dalam periode yang sama. Manajemen menyatakan perubahan aset dan liabilitas di atas 20% ini tidak berdampak negatif terhadap kinerja perusahaan.
