PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) menggelar Public Expose Tahunan 2026 pada Selasa, 8 September 2026, pukul 11.00 sampai 12.00 WIB melalui Zoom webinar, sebagai bagian dari rangkaian Public Expose Live IDX 2026. Sesi dibuka oleh moderator dari Bursa Efek Indonesia, Prasetyo Wibowo, dan diikuti 68 peserta untuk sesi public expose serta 58 peserta untuk sesi konferensi pers yang dipandu Nadine Hendrah. Manajemen yang hadir memaparkan kinerja adalah Direktur Utama Yulisar Khiat, Direktur Operasional dan Komersial Susi Setyawati, Direktur Keuangan Yustinus Immanuel Herawan, dan Sekretaris Perusahaan Ichsan Hanafi.
Direktur Keuangan Yustinus Immanuel Herawan memaparkan kinerja semester pertama 2026, meliputi kenaikan pendapatan, EBITDA, laba bersih setelah pajak, serta laba bersih setelah pajak dan kepentingan nonpengendali. Ia juga menyampaikan kenaikan jumlah kunjungan pasien rawat inap dan rawat jalan baik dari segmen umum maupun JKN, rasio utang dan solvabilitas yang disebut masih terjaga, serta belanja modal yang dipakai untuk pembukaan rumah sakit baru, penambahan tempat tidur, dan penambahan alat medis.
Dalam sesi tanya jawab, manajemen mengungkapkan kontribusi kerja sama dengan Astra dan Djarum, terutama lewat medical check-up dan layanan kesehatan lain, berada di kisaran 10 persen dari pendapatan. Pembukaan rumah sakit baru di Badung, Bali, dan Kepanjen, Malang, didasarkan pada studi kelayakan dan permintaan dokter spesialis setempat. Sisa alokasi belanja modal tahun ini sekitar Rp500 miliar akan dipakai bukan untuk rumah sakit baru, melainkan pembelian alat medis guna melengkapi layanan unggulan seperti pusat onkologi di Bekasi, serta renovasi rumah sakit yang ada untuk memisahkan alur pasien BPJS dan nonBPJS. Rumah sakit Hermina PIK 2 disebut sudah membukukan pendapatan di atas target dengan EBITDA positif, sementara Hermina Nusantara di IKN masih mencatat EBITDA negatif akibat keterbatasan volume layanan, meski manajemen memproyeksikan EBITDA IKN bisa positif pada akhir tahun ini.
Soal risiko nilai tukar, manajemen menyebut dampak pelemahan rupiah terhadap biaya pengadaan relatif terbatas karena komitmen pembelian untuk satu tahun penuh 2026 sudah dikunci, dengan perkiraan kenaikan beban pokok pendapatan tidak lebih dari 0,5 persen. Seluruh pinjaman Perseroan menggunakan rupiah sehingga tidak ada eksposur langsung ke kurs asing. Manajemen juga menjawab pertanyaan soal kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera yang sedikit menambah kasus infeksi saluran pernapasan akut namun belum signifikan, serta kesiapan menangani dampak kesehatan dari erupsi Anak Krakatau berupa sesak napas dan gangguan mata.
