PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJEE) melaporkan kenaikan signifikan pada pos-pos utama neraca keuangannya. Berdasarkan laporan keuangan interim per 30 Juni 2026, total aset perusahaan tercatat Rp8,93 triliun, naik 34,17 persen dari Rp6,66 triliun pada akhir Desember 2025. Total liabilitas naik lebih tajam lagi, 48,19 persen, dari Rp4,15 triliun menjadi Rp6,15 triliun. Dalam surat penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia tertanggal 30 September 2026, manajemen menyebut kenaikan aset terutama berasal dari tambahan kas hasil penawaran umum Obligasi III dan Sukuk II, serta peningkatan persediaan dan aset tetap untuk mendukung pengembangan layanan Fiber To The Home (FTTH). Kenaikan liabilitas dijelaskan berasal dari penerbitan kedua instrumen utang tersebut pada 2026.
Rincian neraca menunjukkan kas dan setara kas naik dari Rp1,32 triliun menjadi Rp1,59 triliun, sementara persediaan naik dari Rp608,3 miliar menjadi Rp757,9 miliar dan aset tetap bertambah dari Rp4,46 triliun menjadi Rp5,37 triliun. Di sisi liabilitas, porsi utang obligasi yang jatuh tempo dalam satu tahun ke depan melonjak dari Rp852,5 miliar menjadi Rp1,59 triliun, dan porsi sukuk yang jatuh tempo dalam satu tahun ke depan naik dari Rp686,5 miliar menjadi Rp1,47 triliun. Utang usaha kepada pihak ketiga juga melonjak dari Rp1,19 miliar menjadi Rp110,7 miliar.
Laporan keuangan interim ini diaudit oleh KAP Kanaka Puradiredja, Suhartono dengan partner penanggung jawab Christiadi Tjahnadi, dan memperoleh opini wajar tanpa modifikasian. Auditor tahun sebelumnya adalah KAP Anwar Rekan dengan partner Soaduon Tampubolon, yang berarti terjadi pergantian kantor akuntan publik. Auditor mencatat dua hal audit utama, yaitu potensi penurunan nilai aset tetap senilai Rp5,36 triliun yang sebagian besar berupa infrastruktur jaringan telekomunikasi, serta ketepatan waktu pengakuan pendapatan dari kontrak pelanggan.
