PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) melaporkan pendapatan neto konsolidasian sebesar Rp926,45 miliar untuk semester pertama 2026, melonjak dari Rp45 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih periode berjalan ikut naik dari Rp7,66 miliar menjadi Rp34,21 miliar, dengan laba per saham dasar naik dari Rp1,01 menjadi Rp3,13 dan laba per saham dilusian naik dari Rp0,85 menjadi Rp2,62. Laporan keuangan ini diaudit oleh KAP Suhari, Sugiarto dan Rekan dengan partner penanggung jawab Ridho Fathoni, dan memperoleh opini wajar tanpa pengecualian.

Ekuitas perusahaan melonjak dari Rp429,21 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp3,81 triliun per 30 Juni 2026, sementara total aset naik dari Rp760,37 miliar menjadi Rp6,11 triliun. Kenaikan ini terutama berasal dari aksi korporasi pada kuartal pertama 2026, yaitu penerbitan saham baru lewat rights issue, penerbitan obligasi senilai total Rp500 miliar, dan penerbitan sukuk ijarah senilai total Rp500 miliar. Jumlah saham beredar bertambah dari 9,58 miliar lembar menjadi 22,37 miliar lembar, dan kas serta setara kas Perseroan melonjak dari Rp404,44 miliar menjadi Rp4,34 triliun akibat dana yang masuk dari aksi-aksi tersebut.

Di sisi liabilitas, INET menambah utang bank jangka pendek baru sebesar Rp774,66 miliar dan mencatatkan saldo obligasi serta sukuk yang beredar masing-masing sekitar Rp495 miliar. Beban keuangan melonjak dari Rp64,42 juta pada semester I 2025 menjadi Rp50,06 miliar pada semester I 2026 seiring bunga obligasi dan imbal hasil sukuk yang baru diterbitkan. Perusahaan juga melakukan sejumlah kombinasi bisnis sepanjang 2026 yang menambah goodwill dari Rp684,92 juta menjadi Rp82,97 miliar, termasuk penyertaan saham senilai Rp4,36 miliar di PT Inti Pusat Data Nusantara dan investasi 20 persen di PT Jaringan Solusi Teknik yang didirikan oleh entitas anak PADA.

Meski skala bisnis membesar, sejumlah rasio profitabilitas Perseroan justru menurun. Return on asset (ROA) turun dari 3,22 persen menjadi 0,57 persen dan return on equity (ROE) turun dari 5,71 persen menjadi 0,91 persen, sementara rasio EBITDA terhadap pendapatan turun dari 50,22 persen menjadi 6,46 persen. Rasio lancar, yaitu kemampuan membayar kewajiban jangka pendek dengan aset lancar, justru membaik dari 148,27 persen menjadi 283,50 persen berkat tambahan kas dari rights issue serta obligasi dan sukuk baru.