PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 kepada Bursa Efek Indonesia, ditandatangani Direktur Utama Muhammad Arif dan Direktur Septiawan pada 30 Oktober 2026. Total aset perusahaan melonjak dari Rp760,37 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp6,50 triliun, dengan kas dan setara kas naik 878 persen dari Rp404,44 miliar menjadi Rp3,955 triliun. Perusahaan menjelaskan lonjakan kas ini berasal dari dana right issue dan penerbitan obligasi serta sukuk ijarah yang masuk pada kuartal pertama 2026.
Rincian aksi korporasi tersebut: INET menerbitkan saham baru lewat penawaran umum terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu senilai Rp3,195 triliun, membuat jumlah saham beredar bertambah dari 9.581.075.296 menjadi 22.378.260.116 lembar dengan nilai nominal Rp10 per saham. Modal saham tercatat naik dari Rp95,81 miliar menjadi Rp223,78 miliar, sementara tambahan modal disetor melonjak dari Rp302,18 miliar menjadi Rp3,369 triliun. Perusahaan juga menerbitkan obligasi senilai Rp500 miliar dan sukuk ijarah senilai Rp500 miliar di awal 2026. Total ekuitas Perseroan naik dari Rp429,21 miliar menjadi Rp3,949 triliun.
Dana tersebut sebagian dipakai untuk akuisisi. Goodwill perusahaan naik dari Rp684,92 juta menjadi Rp191,47 miliar, dengan rincian akuisisi PT Sarana Global Indonesia (SGI) senilai Rp108,50 miliar, PT THC Digital Solution (THC) Rp51,15 miliar, PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) Rp19,47 miliar, dan PT Internusa Daya Makmur (IDM) Rp11,66 miliar. Kepentingan nonpengendali melonjak dari Rp19,6 juta menjadi Rp267,30 miliar akibat saham minoritas di entitas anak yang baru dikonsolidasi. Di sisi liabilitas, utang bank jangka pendek bertambah Rp880,51 miliar, termasuk fasilitas kredit baru Rp550 miliar dari beberapa bank.
Dari sisi kinerja, pendapatan neto sembilan bulan melonjak dari Rp68,60 miliar menjadi Rp1,546 triliun, didorong konsolidasi anak usaha baru, termasuk piutang usaha PADA sebesar Rp240,6 miliar. Laba periode berjalan naik dari Rp19,37 miliar menjadi Rp59,13 miliar, dengan bagian yang diatribusikan ke pemilik entitas induk mencapai Rp58,06 miliar. Laba per saham dasar naik dari Rp2,39 menjadi Rp4,91, dan laba per saham dilusian naik dari Rp2,28 menjadi Rp4,11. Di sisi lain, beban keuangan melonjak dari Rp552,38 juta menjadi Rp76,55 miliar akibat bunga obligasi, imbalan sukuk, dan utang bank baru.
