Kementerian Perdagangan bersama Meta Indonesia dan UKMIndonesia.id meluncurkan program pendampingan bertajuk "Gapai Pasar Global dengan AI" untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah memanfaatkan kecerdasan buatan dalam pemasaran produk. Program ini dibuka langsung oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (9/9). Total ada 200 UMKM di Bandung, Batam, dan Jakarta yang menjadi sasaran, dengan seri Jakarta menyaring 100 peserta dari 580 pendaftar.
Materi pendampingan mencakup riset pasar global, penyusunan katalog digital, hingga praktik pemasangan iklan lewat fitur Meta Advantage+. Setelah sesi hari ini, peserta akan mendapat pendampingan lanjutan selama tujuh hari untuk mengoptimalkan iklan dan menjaring calon pembeli. Meta Indonesia juga memperkenalkan fitur Personalized AI dan Meta Business Agent yang bisa dipakai UMKM untuk otomatisasi balasan pesan pembeli dan pembuatan konten pemasaran.
Nilai barang yang dijual Indonesia ke luar negeri. Naik 0,76 miliar US$ dibanding Juni 2026. Posisinya di atas rata-rata 12 bulan terakhir (24.007,8).
Sumber: Badan Pusat Statistik, Nilai Ekspor. Diolah The Signal.
Menteri Perdagangan menyebut kontribusi UMKM terhadap nilai ekspor Indonesia mencapai 15,7 persen pada 2025, menurut data Kementerian Perdagangan. Tahap berikutnya, peserta akan diarahkan pada kesiapan ekspor bersama atase perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center lewat webinar soal logistik, perjanjian ekspor, dan penjajakan kerja sama bisnis. Hasil pendampingan rencananya diserahkan secara simbolis dalam bentuk Katalog Ekspor UMKM kepada Menteri Perdagangan pada Forum Bisnis Trade Expo Indonesia 2026, yang berlangsung 14 hingga 18 Oktober 2026.
Selain program bersama Meta ini, Kementerian Perdagangan juga memiliki program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor yang menghubungkan pelaku usaha dengan jaringan perwakilan dagang Indonesia di luar negeri. Perwakilan Meta Indonesia, Berni Moestafa, menyebut tantangan utama UMKM di Batam dan Bandung selama ini bukan soal kualitas produk, melainkan sulitnya produk ditemukan calon konsumen di dunia maya.
