Kementerian Pertanian mulai menggerakkan rencana besar pengembangan bioetanol dari tiga komoditas, yakni tebu, singkong, dan jagung. Dalam rapat bersama 44 bupati di Jakarta, Senin (21/9), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan pemerintah akan menyiapkan lahan hingga 2 juta hektare sebagai fondasi sebelum pabrik-pabrik pengolahan dibangun.

Dari total itu, kebutuhan lahan tebu saja diperkirakan mencapai 1 juta hektare, sementara singkong dan jagung akan dikembangkan di daerah yang sesuai kondisi lahannya. Untuk pembiayaan industri, Amran menyebut skema pembagian sekitar 30 persen dari BUMN dan 70 persen dari swasta, dengan alasan investor swasta akan lebih tertarik karena penyediaan lahan ditanggung negara. Pemerintah juga mewajibkan skema kemitraan dengan porsi manfaat minimal 30 persen untuk masyarakat sekitar, naik dari ketentuan sebelumnya yang di bawah 20 persen.

Sebagai langkah awal, Kementan akan memberi dukungan lahan percontohan jagung seluas 500 hingga 1.000 hektare per kabupaten, yang bisa diperluas sampai 1.500 hektare bagi daerah dengan hasil produksi baik. Evaluasi hasil tanam ini direncanakan pada Januari, dan akan menentukan penambahan luas lahan berikutnya. Pemerintah juga menjanjikan bantuan alat dan mesin pertanian, serta menegaskan prioritas penyiapan lahan pada kawasan yang secara teknis sesuai dan berstatus legal jelas, sementara pelepasan kawasan hutan disebut sebagai pilihan terakhir.

Dalam jangka panjang, pemerintah mengarahkan program ini untuk menaikkan porsi campuran etanol dalam bahan bakar secara bertahap, dari kisaran 5 sampai 20 persen pada 2029 hingga kemungkinan 40 persen pada 2030-2031, menurut perkiraan Amran. Kementan juga mengklaim program ini berpotensi menciptakan hingga 8 juta lapangan kerja permanen, sebuah proyeksi yang disampaikan Kementan sendiri dan belum disertai rincian metode perhitungannya.