Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama UNDP Indonesia memulai kerja sama untuk mendongkrak produktivitas budi daya rumput laut jenis Gracilaria di Sidoarjo, Jawa Timur. Bentuknya berupa perbaikan tambak, penyediaan bibit unggul, penguatan sarana produksi dan pascapanen, serta upaya menarik investasi pengolahan. Program ini penting karena menyasar salah satu komoditas ekspor andalan perikanan budi daya Indonesia.

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Tb Haeru Rahayu, menyebut permintaan rumput laut dunia diproyeksikan mencapai 40 sampai 43 juta ton pada 2029. Indonesia saat ini adalah produsen rumput laut terbesar kedua dunia, dengan produksi 9,8 juta ton pada 2024, dan Gracilaria menyumbang sekitar 16,5 persen dari produksi itu di 15 provinsi sentra. Khusus di Jawa Timur, produksi Gracilaria tercatat 31.947 ton, sebagian besar dibudidayakan bersama ikan bandeng dalam satu tambak atau sistem polikultur.

Sebagai dukungan konkret, KKP telah menyerahkan dua unit ekskavator untuk perbaikan tambak, bibit Gracilaria unggul, benih bandeng, dan bantuan pembiayaan kepada pembudidaya di Sidoarjo. Dua unit pelaksana teknis KKP di Jawa, yaitu BPBAP Situbondo dan BBPBAP Jepara, akan diarahkan mengembangkan teknologi pembibitan berbasis spora, yang selama ini hanya berjalan di Balai Perikanan Budi Daya Air Payau Takalar, Sulawesi Selatan. Kepala Balai Takalar, Boyun Handoyo, menyebut sekitar 2 ton bibit hasil teknologi spora sudah dikirim ke Sidoarjo tahun ini.

Resident Representative UNDP Indonesia, Sara Ferrer Olivella, menilai perbaikan pengelolaan bibit, proses panen, dan pengolahan menjadi kunci untuk menaikkan nilai yang diterima pembudidaya. Ia menambahkan bahwa keterlibatan sektor swasta, investor, dan industri diperlukan agar koperasi bisa mendiversifikasi produk, memperkuat pengolahan, dan memperluas akses pasar rumput laut Indonesia ke pasar global.