Pemerintah melalui Kemenko Perekonomian memaparkan capaian program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan kredit program lainnya dalam forum internasional di Nusa Dua, Bali, yang mempertemukan Indonesia dengan Bank Dunia, Women's World Banking, dan KfW Development Bank. Forum ini penting karena memetakan sejauh mana skema pembiayaan bersubsidi yang berjalan sejak 2007 itu sudah berkembang, kini mencakup lima instrumen berbeda mulai dari KUR, kredit alat pertanian, kredit industri padat karya, kredit perumahan, hingga kredit untuk perempuan prasejahtera yang baru memasuki tahap peluncuran.
Indonesia tercatat memiliki 56,7 juta UMKM, dan 96,7 persen di antaranya adalah usaha mikro dengan penjualan tahunan sampai Rp2 miliar. Sejak 2015, penyaluran kumulatif kredit program pemerintah mencapai Rp2.440 triliun melalui 58,1 juta akad kredit, dengan rasio kredit bermasalah atau NPL tercatat 2,13 persen per akhir September 2026, tergolong rendah untuk pembiayaan berskala mikro. Bunga KUR juga tergolong murah, yaitu 3 persen untuk kategori super mikro dan 6 persen untuk mikro sektor produksi, dan pinjaman sampai Rp100 juta tidak memerlukan jaminan tambahan.
Porsi KUR yang mengalir ke sektor produksi, seperti pertanian, perikanan, dan usaha pengolahan skala kecil, naik dari 60,7 persen pada 2025 menjadi 66 persen pada 2026. Hingga akhir September 2026, KUR menjangkau 1,87 juta debitur baru, sementara sekitar 900 ribu debitur naik kelas dari pinjaman kecil ke pinjaman yang lebih besar. Salah satu contoh yang dipaparkan adalah pelaku usaha di Gunungkidul, Yogyakarta, yang memulai dari KUR pada 2017 dan kini mendapat pinjaman lanjutan Rp300 juta berbunga 6 persen untuk membangun gudang, dengan usahanya kini mempekerjakan 28 warga setempat dan memasarkan produknya sampai ke Amerika Serikat.
Bank Dunia memaparkan studi atas lebih dari 8 juta debitur KUR yang menemukan 61 persen di antaranya belum pernah mendapat pinjaman sebelumnya, menunjukkan program ini banyak menjangkau kelompok yang sebelumnya belum tersentuh layanan keuangan formal. KfW membagikan pengalaman serupa dari Eropa Tenggara lewat skema European Fund for Southeast Europe, yang menurut laporan dampaknya menyalurkan sub-pinjaman senilai EUR12,6 miliar kepada UMKM dan rumah tangga serta mendukung 2,9 juta lapangan kerja tidak langsung. Pemerintah menyebut basis data UMKM yang sudah mencatat 30,2 juta pelaku usaha hingga akhir 2025 akan jadi modal untuk mengevaluasi dampak kredit program secara lebih rinci ke depan.
