PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Total aset perusahaan naik 23 persen menjadi Rp16,14 triliun dari Rp13,12 triliun pada akhir 2025, sementara pendapatan bersih tumbuh 17,5 persen menjadi Rp22,09 triliun dari Rp18,81 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih konsolidasian naik tipis menjadi Rp688,1 miliar dari Rp672,4 miliar, namun porsi laba yang mengalir ke pemegang saham induk, yaitu pemilik mayoritas perusahaan, justru turun menjadi Rp443,9 miliar dari Rp469,6 miliar karena porsi laba yang dinikmati pemegang saham minoritas di anak usaha naik lebih besar. Akibatnya, laba bersih per saham turun dari Rp38 menjadi Rp36.

Dalam surat keterbukaan informasi terpisah tertanggal 28 Oktober 2026, Corporate Secretary Metrodata, Randy Kartadinata, menjelaskan kenaikan aset dan liabilitas yang melampaui 20 persen sesuai aturan Bursa Efek Indonesia. Kenaikan aset terutama didorong oleh persediaan yang melonjak 107,9 persen atau Rp2,1 triliun untuk menopang pertumbuhan penjualan, serta piutang usaha pihak ketiga yang naik 15,2 persen atau Rp652,7 miliar, di mana 61,1 persen dari piutang tersebut belum jatuh tempo. Di sisi liabilitas, kenaikan terbesar berasal dari pinjaman jangka pendek yang melonjak 230,2 persen atau Rp2,2 triliun, yang digunakan perusahaan untuk membiayai modal kerja, khususnya pembelian persediaan.

Pembiayaan lewat utang ini turut membuat beban bunga naik dari Rp48,4 miliar menjadi Rp126,2 miliar dalam sembilan bulan. Arus kas dari kegiatan operasional juga tercatat defisit Rp2,16 triliun, melebar dari defisit Rp650,3 miliar pada periode yang sama tahun lalu, karena kas yang dibayarkan ke pemasok dan karyawan lebih besar dari kas yang diterima dari pelanggan. Sepanjang sembilan bulan ini, Metrodata tetap membagikan dividen tunai Rp331,5 miliar kepada pemegang saham perusahaan dan Rp164 miliar kepada pemegang saham nonpengendali di anak usaha.