PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ) mengoreksi surat penjelasannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 20 Oktober 2026, menyusul permintaan penjelasan BEI melalui surat nomor S-13167/BEI.PP3/10-2026 tanggal 16 Oktober 2026. Dalam suratnya, Direktur Utama NAYZ, Dody Arifianto, menjelaskan latar belakang harga pengambilalihan saham perseroan oleh Saiko Consultancy Pte Ltd dari pengendali lama, Asia Intrainvesta, sebesar Rp23,5 per saham, jauh di bawah harga penutupan saham NAYZ di pasar sekunder pada 19 Agustus 2026 yang sebesar Rp63 per saham. Perseroan menegaskan harga itu merupakan hasil negosiasi jual beli saham dalam jumlah besar antara penjual dan pembeli sesuai Conditional Share Purchase Agreement, bukan cermin penurunan kinerja keuangan perseroan.
Untuk mendanai pembelian 20 persen saham Bangkok Tellink Co Ltd (BTL), sebanyak 1.138.500 dari total 5.692.500 saham senilai Rp448,3 miliar, NAYZ akan menggunakan dana hasil Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (rights issue), bukan kas internal yang per 30 Juni 2026 hanya tersisa Rp6,1 miliar. Total nilai pengalihan seluruh saham BTL diestimasi sebesar US$125 juta atau Rp2,24 triliun, setara 80,4 kali lipat dari nilai ekuitas BTL tahun 2025 yang hanya Rp27,9 miliar. Perseroan menyebut nilai itu berasal dari laporan penilaian Avison Young, penasihat BTL, menggunakan metode pendapatan dengan pendekatan diskonto arus kas, dan menegaskan nilai final nanti akan mengacu pada penilai independen yang terdaftar di OJK. Total aset BTL per akhir 2025, menurut laporan audit PKF, tercatat Rp74,05 miliar, dengan komponen terbesar berupa piutang usaha Rp20,09 miliar dan persediaan Rp19,75 miliar yang sebagian besar berupa 9.000 unit mesin penjual otomatis kartu SIM isi ulang yang terpasang di gerai 7-Eleven di seluruh Thailand.
Perseroan juga mengonfirmasi perubahan susunan pengurus menyusul pengambilalihan oleh Saiko. RUPSLB pada 2 Oktober 2026 telah menyetujui pengangkatan Nusttanakit Sasiarnon sebagai direktur dan Sawin Laosethakul sebagai komisaris, keduanya perwakilan Saiko. Saiko dan PT Saiko Consultancy Grand menyatakan tidak berencana melepas kepemilikan atau status pengendali dalam 10 tahun ke depan, dan tidak ada perubahan kebijakan dividen maupun covenant utang perseroan. NAYZ menambahkan, dalam 12 bulan ke depan perseroan berencana menggelar RUPSLB untuk meminta persetujuan pemegang saham atas rights issue tersebut, dengan tahapan RUPS Independen dan pendaftaran rights issue pada kuartal pertama 2027, pembelian 20 persen saham BTL dan pernyataan efektif OJK pada kuartal kedua 2027, hingga NAYZ efektif menguasai 75 persen BTL dan mengonsolidasikan pendapatannya mulai laporan keuangan tahun buku 2027.
