Pemerintah melalui Kementerian ESDM membuka forum IndoEBTKE Convention and Exhibition (ConEx) 2026 di Jakarta, Rabu (2/9), sebagai upaya memperkuat pengembangan energi baru dan terbarukan di tengah tekanan rantai pasok global yang berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan beban subsidi. Forum yang kembali digelar setelah tiga tahun vakum ini mempertemukan pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan untuk membahas hambatan regulasi, teknologi, infrastruktur, hingga permodalan di sektor energi bersih.

Wakil Menteri ESDM Yuliot menyampaikan pemerintah menargetkan 42,6 gigawatt dari total sekitar 70 gigawatt tambahan kapasitas pembangkit listrik dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 berasal dari energi baru dan terbarukan, atau sekitar 62 persen dari total tambahan kapasitas. Selain pembangkit listrik, pemerintah juga mendorong penggunaan bahan bakar nabati lewat program B50, perluasan kendaraan listrik, jaringan gas kota, dan substitusi elpiji dengan gas alam terkompresi (CNG).

Pengelolaan sampah kota turut menjadi bagian dari strategi ini. Dari total timbulan sampah nasional 2025 yang mencapai 52,6 juta ton atau sekitar 145 ribu ton per hari, pemerintah mencatat baru sekitar 25 persen yang terkelola, sehingga teknologi pengolahan sampah menjadi energi dinilai berpotensi menambah pasokan listrik sekaligus mengurangi pencemaran.

Yuliot mengakui tantangan utama pengembangan energi bersih terletak pada rantai pasok yang belum terintegrasi, mulai dari bahan baku, pabrik manufaktur, teknologi, hingga sumber daya manusia. Ia menyebut Indonesia memiliki modal berupa cadangan bauksit, nikel, silika, dan tembaga yang berpotensi mendukung industri panel surya dan baterai dalam negeri, asalkan penguasaan teknologi dan industri manufaktur nasional turut diperkuat agar tidak menciptakan ketergantungan baru pada teknologi impor.