Sebuah perusahaan asal Bandung, PT Visi Indonesia Parama, menandatangani kesepakatan bisnis dengan importir Arab Saudi, Bassam Salem Abdullah Fotis Company, untuk memasarkan cokelat bubuk dan karbon aktif ke pasar Timur Tengah. Nilai kesepakatan itu tercatat USD 197.305 atau sekitar Rp3,5 miliar, ditandatangani di Bandung pada 10 Agustus 2026.
Kesepakatan ini merupakan tindak lanjut dari penjajakan bisnis yang difasilitasi Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Jeddah sejak Desember 2025 hingga Maret 2026. Sebelum penandatanganan, pihak buyer asal Arab Saudi sempat mengunjungi langsung fasilitas produksi PT Visi Indonesia Parama untuk memeriksa kualitas dan kapasitas produksi.
Transaksi ini terjadi di tengah hubungan dagang Indonesia-Arab Saudi yang jauh lebih besar skalanya. Sepanjang Januari-Juni 2026, total perdagangan nonmigas kedua negara mencapai USD 1,68 miliar, dengan ekspor Indonesia sebesar USD 1,02 miliar dan impor USD 665,10 juta. Pada 2025, total perdagangan nonmigas tercatat USD 3,94 miliar dengan surplus bagi Indonesia sebesar USD 1,82 miliar.
Selama ini produk ekspor utama Indonesia ke Arab Saudi didominasi kendaraan dan bagiannya, lemak dan minyak nabati, kapal, serta produk kayu, sementara Indonesia banyak mengimpor garam, plastik, dan bahan kimia dari negara tersebut. Cokelat bubuk dan karbon aktif belum masuk dalam kelompok komoditas ekspor utama itu.