PT Prima Globalindo Logistik Tbk (PPGL) menyampaikan tanggapan resmi atas permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia No. S-13204/BEI.PP2/10-2026 tanggal 19 Oktober 2026. Perseroan mengakui divestasi anak usaha JAYA membuat total aset turun 87,9 persen, pendapatan turun 54,5 persen, dan laba tahun berjalan turun 53,8 persen per 30 Juni 2026. Sebagai gantinya, perseroan mengandalkan pertumbuhan organik lewat penguatan usaha inti serta rencana akuisisi PT Natadana Solusi Pratama (jasa fidusia online) dan PT Wani Piro Rek (food and beverage online) yang ditargetkan tuntas tahun ini, namun keduanya masih dalam tahap negosiasi dan belum ada kesepakatan mengikat.

Dari sisi keuangan, perseroan memiliki piutang Rp21,62 miliar kepada pemegang saham mayoritas, setara 43,47 persen dari total aset, yang berasal dari transaksi penjualan saham JAYA dan belum dilunasi per 30 Juni 2026. Berdasarkan perjanjian, pemegang saham wajib melunasi dalam tahun buku 2026 ini, dengan bunga 0,6 persen per bulan atas saldo yang belum dibayar sejak 1 Juli 2026, dan sumber pelunasan berasal dari dana pribadi yang dijamin tanah dan bangunan milik pribadi pemegang saham tersebut. Secara terpisah, perseroan juga memiliki utang factoring Rp8,92 miliar kepada PT Bank Hibank Indonesia (dahulu Bank Mayora) yang jatuh tempo Oktober dan Desember 2026, dilunasi langsung oleh Grup Mayora selaku pelanggan atas piutang yang dianjakpiutangkan, dan selama ini selalu dibayar tepat waktu.

Perseroan juga mengonfirmasi telah membatalkan agenda penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) melalui koreksi pemanggilan RUPSLB tanggal 21 Oktober 2026. Terkait penjualan saham Komisaris Utama Jap Astrid Patricia hingga kepemilikannya menjadi nihil, perseroan menyatakan itu murni keputusan investasi pribadi yang tidak berkaitan dengan divestasi JAYA, saham bonus, maupun PMTHMETD, dengan pembeli yang diatur melalui arranger PT NH Korindo Sekuritas Indonesia dan tidak berafiliasi dengan pengendali, direksi, atau komisaris. Pengendali dan pemilik manfaat akhir perseroan dipastikan tetap Darmawan Suryadi SM selaku Direktur Utama.

Perseroan juga mengakui adanya salah saji dalam laporan arus kas, di mana penerimaan pelepasan JAYA sebesar Rp44,60 miliar ternyata bukan seluruhnya uang tunai, melainkan terdiri dari set-off nonkas Rp23,13 miliar dan piutang pemegang saham Rp21,48 miliar, dan berjanji akan membetulkan penyajiannya. Untuk rencana saham bonus, perseroan mengonfirmasi mengkapitalisasi agio saham Rp11,31 miliar menjadi 514.118.680 lembar saham baru dengan nilai nominal Rp22 per saham sesuai rasio 6 berbanding 4, sementara sisa agio Rp1,90 miliar belum ada rencana penggunaannya.