Presiden Prabowo Subianto membuka peluang bagi pihak swasta untuk ikut mengoperasikan aset strategis milik negara yang selama ini tidak dikelola maksimal oleh BUMN, termasuk bandara. Ini penting bagi pembaca karena menyangkut fasilitas publik yang dipakai sehari-hari, dan menentukan siapa yang akan menjalankannya ke depan meski kepemilikannya tetap di tangan negara.

Rencana ini disampaikan Prabowo saat memaparkan RUU APBN 2027 dan Nota Keuangan dalam Sidang Tahunan MPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Ia menyebut langkah ini menyatu dengan program pembersihan BUMN yang sudah berjalan: 290 perusahaan pelat merah yang dinilai tidak produktif telah ditutup, dan pemerintah menargetkan hanya menyisakan maksimal 300 BUMN yang benar-benar produktif hingga akhir tahun ini.

Aset yang disasar mencakup tanah, gedung, jaringan, kawasan, hingga berbagai fasilitas milik BUMN yang belum menghasilkan nilai ekonomi maksimal. Pemerintah akan membuka kerja sama dengan swasta lewat proses yang disebut Prabowo terbuka, kompetitif, dan akuntabel, dengan syarat kepemilikan strategis aset tetap dipegang negara.

Prabowo menjadikan India sebagai rujukan lewat skema yang mereka sebut National Monetisation Pipeline, di mana swasta diberi ruang mengoperasikan aset publik yang sudah terbangun tanpa mengambil alih kepemilikannya. Menurut dia, dana yang diperoleh dari skema semacam itu bisa diputar kembali untuk membiayai pembangunan infrastruktur baru.