Pemerintah tengah menyiapkan program baru bernama E50, campuran bahan bakar nabati untuk bensin, sebagai langkah lanjutan setelah menjalankan B50 pada solar. Arahan ini disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional pertama tahun 2026 di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/9). Bagi masyarakat, langkah ini penting karena menyasar salah satu penyebab utama impor BBM, yaitu konsumsi bensin yang selama ini masih banyak dipasok dari luar negeri.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan Presiden meminta jajarannya mempelajari pengalaman B50, yang menurut pemerintah berhasil menekan impor solar jenis CN48, lalu menerapkan pola serupa untuk menyusun E50. Ia menyebut konsumsi solar nasional saat ini sekitar 39 juta kiloliter per tahun, sementara konsumsi bensin berkisar 39 hingga 40 juta kiloliter per tahun, angka yang menggambarkan besarnya kebutuhan BBM yang masih bergantung pada pasokan impor. Namun pemerintah belum mengungkap target waktu, rasio campuran final, maupun sumber bahan baku etanol yang akan dipakai untuk E50.

Angka BPSNilai impor
26,1 miliar US$Juli 2026

Nilai barang yang dibeli Indonesia dari luar negeri. Naik 0,19 miliar US$ dibanding Juni 2026. Tertinggi dalam 31 bulan yang tercatat. Posisinya di atas rata-rata 12 bulan terakhir (21.914,1).

Februari 2024: 18,5 miliar US$Maret 2024: 18,0 miliar US$April 2024: 17,0 miliar US$Mei 2024: 19,5 miliar US$Juni 2024: 18,5 miliar US$Juli 2024: 21,9 miliar US$Agustus 2024: 20,8 miliar US$September 2024: 19,0 miliar US$Oktober 2024: 22,1 miliar US$November 2024: 19,8 miliar US$Desember 2024: 21,5 miliar US$Januari 2025: 17,9 miliar US$Februari 2025: 18,8 miliar US$Maret 2025: 18,9 miliar US$April 2025: 20,5 miliar US$Mei 2025: 20,3 miliar US$Juni 2025: 19,3 miliar US$Juli 2025: 20,5 miliar US$Agustus 2025: 19,4 miliar US$September 2025: 20,5 miliar US$Oktober 2025: 21,8 miliar US$November 2025: 19,8 miliar US$Desember 2025: 23,8 miliar US$Januari 2026: 21,2 miliar US$Februari 2026: 20,9 miliar US$Maret 2026: 19,2 miliar US$April 2026: 25,2 miliar US$Mei 2026: 24,8 miliar US$Juni 2026: 25,9 miliar US$Juli 2026: 26,1 miliar US$FebMeiAguNovFebMeiAguNovFebMeiJul20242025202626.09516.994Agustus 2025: 19,4 miliar US$September 2025: 20,5 miliar US$Oktober 2025: 21,8 miliar US$November 2025: 19,8 miliar US$Desember 2025: 23,8 miliar US$Januari 2026: 21,2 miliar US$Februari 2026: 20,9 miliar US$Maret 2026: 19,2 miliar US$April 2026: 25,2 miliar US$Mei 2026: 24,8 miliar US$Juni 2026: 25,9 miliar US$Juli 2026: 26,1 miliar US$AguOktDesFebAprJunJul2025202626.09519.206

Sumber: Badan Pusat Statistik, Nilai Impor. Diolah The Signal.

Selain program E50, pemerintah juga mendorong eksplorasi cekungan dan blok minyak baru serta optimalisasi produksi dari sumur-sumur tua dengan bantuan teknologi. Bahlil menyebut ada sekitar 45.000 sumur tua yang akan digarap ulang, dengan penekanan agar pengelolaannya dilakukan secara profesional dan tidak terjadi penyimpangan seperti penjualan hasil produksi langsung di lokasi sumur.

Di sisi regulasi, ESDM tengah menyiapkan usulan pembentukan Badan Usaha Khusus (BUK) Migas melalui revisi Undang-Undang Migas, dengan lembaga itu nantinya bertanggung jawab langsung ke Presiden. Bahlil menyebut fokus penyusunannya adalah mencari formula perizinan yang tidak menghambat proses lintas sektor, yang selama ini dianggap memperlambat peningkatan produksi migas siap jual atau lifting.