PT Pupuk Indonesia (Persero) memaparkan kesiapan jaringan distribusinya menjelang musim tanam, saat permintaan pupuk bersubsidi biasanya melonjak di berbagai daerah. Hal ini penting bagi petani karena keterlambatan pasokan pupuk pada masa tanam bisa langsung memengaruhi jadwal dan hasil panen, terutama di wilayah yang jauh dari pusat produksi.

Secara nasional, perusahaan menyebutkan memiliki 17 unit distribution center untuk pengantongan pupuk, 4 komplek pelabuhan khusus, serta jaringan transportasi berupa 204 rute kapal laut, 1.292 rute truk, dan 3 rute kereta api. Penyaluran ke petani dijalankan lewat 1.047 Pelaku Usaha Distribusi dan berujung pada 26.634 Penerima Pupuk pada Titik Serah yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.

Untuk mengelola wilayah operasi yang luas, Pupuk Indonesia membagi kerjanya ke dalam empat regional yang masing-masing dipimpin seorang Regional Chief Executive Officer. Siaran ini merinci tiga di antaranya, yakni regional yang mencakup Aceh, Sumatera bagian utara dan selatan, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, dan Lampung; regional yang mencakup DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah; serta regional yang mencakup Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Rincian wilayah regional keempat tidak disebutkan dalam siaran ini.

Perusahaan juga menyinggung tantangan geografis seperti kondisi kepulauan dan perbedaan akses transportasi antarwilayah, yang membuat perencanaan stok dan pengiriman harus disesuaikan dengan jadwal tanam di masing-masing daerah. Selain infrastruktur fisik, Pupuk Indonesia menyebut pemanfaatan sistem pencatatan data untuk memantau persediaan dan pengiriman sebagai pendukung koordinasi antarwilayah.