PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM) menyampaikan surat penjelasan bernomor 50-CORSEC/MVP/X/2026 tertanggal 26 Oktober 2026 kepada Bursa Efek Indonesia, menanggapi permintaan penjelasan BEI No. S-13372/BEI.PP1/10-2026 tertanggal 23 Oktober 2026. BEI mempertanyakan konsistensi pernyataan RAAM soal rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue, setelah surat RAAM pada 22 Oktober 2026 menyebut tidak ada rencana aksi korporasi material dalam waktu dekat, padahal siaran pers 23 Juli 2026 sebelumnya membahas proses rights issue tersebut. Dalam surat ini, RAAM menegaskan bahwa pernyataan 22 Oktober itu tidak berarti rencana rights issue dibatalkan, dan sampai saat ini perusahaan belum mengambil keputusan final atas kelanjutan rencananya.

Corporate secretary RAAM, Audrya Luvika Siregar, menjelaskan bahwa rencana rights issue ini sudah disetujui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 5 Mei 2026, tetapi perseroan masih mengevaluasi pelaksanaannya dengan mempertimbangkan kondisi pasar modal, kebutuhan pendanaan, struktur permodalan, dan kelayakan aksi korporasi tersebut. Perusahaan juga sedang menimbang sumber pendanaan alternatif, termasuk arus kas internal dan fasilitas perbankan, untuk mendukung kebutuhan modal kerja serta rencana penyertaan modal pada PT Platinum Sinema, entitas anak RAAM. Perusahaan menyebut belum bisa menyampaikan perkiraan jadwal pelaksanaan rights issue maupun proforma struktur kepemilikan dan porsi saham free float setelahnya, karena parameter seperti jumlah saham yang akan diterbitkan belum ditetapkan.

RAAM menyebut akan memperhatikan Pasal 8 ayat (3) POJK No. 32/POJK.04/2015 yang mengatur bahwa jangka waktu antara tanggal persetujuan RUPS dan efektifnya pernyataan pendaftaran tidak boleh lebih dari 12 bulan. Dengan RUPSLB yang sudah menyetujui rencana ini pada 5 Mei 2026, berarti RAAM punya waktu hingga sekitar awal Mei 2027 untuk membuat pernyataan pendaftaran rights issue ini efektif, apabila rencana tersebut tetap dilanjutkan.