Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI) menyampaikan laporan hasil Public Expose Tahunan 2026 yang digelar 8 September 2026, dihadiri 83 peserta di luar jajaran manajemen dan karyawan perseroan, terdiri dari investor, media, dan masyarakat umum. Dalam sesi tanya jawab yang dipimpin Corporate Secretary Nurwati Tunggal, manajemen mengungkapkan bahwa porsi saham publik atau free float RELI per Agustus 2026 baru mencapai 14,45 persen berdasarkan data Biro Administrasi Efek, sementara ketentuan bursa mewajibkan minimal 15 persen. Dengan harga saham saat ini Rp555 dan kapitalisasi pasar sekitar Rp990 miliar, yang berarti masih di bawah Rp5 triliun, RELI mendapat kelonggaran waktu hingga 31 Maret 2029 untuk memenuhi batas minimum tersebut. Manajemen menyebut opsi yang mungkin ditempuh adalah penjualan sebagian saham dari pemegang saham afiliasi atau menarik lebih banyak investor publik lewat perbaikan kinerja.
Soal kinerja usaha, manajemen memaparkan bahwa pendapatan dari transaksi sepanjang semester I 2026 mencapai Rp8,74 miliar, naik 31,22 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sekitar 55 persen dari jumlah itu, atau sekitar Rp4,8 miliar, disumbang oleh RELItrade, aplikasi transaksi saham online milik perseroan, sementara sisanya berasal dari transaksi non-online, obligasi, dan reksa dana. Dari sisi persaingan, manajemen menyebut posisi RELI masih berada di urutan ke-47 hingga ke-48 dari sekitar 50 perusahaan sekuritas untuk transaksi saham.
Menjawab pertanyaan wartawan soal sepinya aktivitas penawaran umum saham di tahun 2026, manajemen menyatakan penerbitan efek bersifat ekuitas memang melambat akibat pembaruan aturan pasar modal, namun penerbitan obligasi masih cukup ramai. Perseroan menyebut strategi ke depan adalah memperketat proses due diligence dan kriteria seleksi terhadap calon emiten yang akan didampingi, sejalan dengan aturan baru yang menurut manajemen akan mengurasi kualitas perusahaan yang masuk bursa.
