PT Kian Santang Muliatama Tbk (RGAS) menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, ditandatangani Direktur Utama Edy Nurhamid Amin dalam surat pernyataan direksi tertanggal 22 Oktober 2026. Pendapatan perusahaan turun tajam menjadi Rp83,03 miliar dari Rp175,24 miliar pada periode yang sama tahun lalu, penurunan sekitar 52,6 persen. Meski demikian, laba bruto hanya turun dari Rp24,57 miliar menjadi Rp22,91 miliar karena beban pokok pendapatan ikut menyusut, dan laba bersih tahun berjalan relatif terjaga di Rp3,88 miliar dibandingkan Rp4,00 miliar tahun lalu, dengan laba per saham dasar Rp2,65 dibandingkan Rp2,74.
Total aset perusahaan naik 5,93 persen menjadi Rp167,29 miliar per 30 September 2026 dari Rp157,93 miliar di akhir 2025. Kenaikan ini terutama didorong oleh persediaan yang melonjak hampir empat kali lipat menjadi Rp55,38 miliar dari Rp15,86 miliar, serta uang muka pembelian yang naik dari Rp195,52 juta menjadi Rp12,01 miliar. Di sisi lain, piutang usaha dari pihak berelasi anjlok dari Rp46,55 miliar menjadi hanya Rp274,29 juta, sementara piutang usaha dari pihak ketiga naik dari Rp8,47 miliar menjadi Rp20,78 miliar, menunjukkan perubahan komposisi penagihan perusahaan. Total liabilitas ikut naik 13,12 persen menjadi Rp61,11 miliar, terutama karena utang bank jangka pendek yang bertambah dari Rp18,72 miliar menjadi Rp26,81 miliar.
Arus kas dari kegiatan usaha berbalik menjadi negatif Rp8,14 miliar pada periode ini, dari sebelumnya positif Rp17,95 miliar pada sembilan bulan pertama 2025. Kekurangan kas ini sebagian ditutup dari aktivitas pendanaan yang membukukan arus kas masuk Rp6,41 miliar, terutama dari tambahan utang bank, setelah perusahaan juga membayar dividen kas Rp1,61 miliar sepanjang periode. Dalam laporan ini, perseroan juga mencantumkan kepemilikannya di tiga anak usaha yang seluruhnya beroperasi di Bekasi, yaitu PT Ergas Fusion Indonesia dengan kepemilikan 15 persen di bidang pipa plastik dan perdagangan mesin, PT Kian Santang dengan kepemilikan 99 persen di bidang jasa sertifikasi dan kalibrasi, serta PT Karya Instrumindo Simpati dengan kepemilikan 99 persen di bidang alat uji dan alat ukur industri.
