Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat tipis pada perdagangan Selasa (8/9/2026), naik 6 poin ke level Rp17.632 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp17.640. Penguatan ini terjadi meski secara intraday rupiah sempat melesat hingga 40 poin sebelum kembali menyempit menjelang penutupan. Bagi masyarakat, pergerakan seperti ini penting karena mempengaruhi harga barang impor, biaya bahan baku, dan ongkos utang berdenominasi dolar, meski kali ini dampaknya masih tipis.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut penguatan rupiah hari ini belum cukup kuat untuk bertahan di level terbaiknya sepanjang sesi perdagangan. Ia menilai tekanan dari luar negeri dan ketidakpastian pasar global masih membuat pergerakan rupiah naik turun tanpa arah yang mantap. Untuk perdagangan Rabu (9/9/2026), ia memperkirakan rupiah kembali melemah, bergerak di kisaran Rp17.630 hingga Rp17.670 per dolar AS.

Di sisi lain, Bank Indonesia mencatat cadangan devisa, yakni simpanan dolar dan aset luar negeri lain milik negara yang bisa dipakai sewaktu-waktu, naik menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026 dari US$145,3 miliar sebulan sebelumnya. BI menyebut kenaikan ini terutama ditopang penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri oleh pemerintah. Meski cadangan bertambah, BI tetap turun tangan menstabilkan rupiah di pasar untuk meredam ketidakpastian keuangan global yang masih tinggi.

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan kebutuhan pembiayaan impor selama 5,4 bulan, atau 5,3 bulan jika ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini jauh di atas standar kecukupan internasional yang hanya mematok sekitar tiga bulan impor, sehingga menjadi bantalan tambahan bagi Indonesia saat tekanan terhadap rupiah kembali muncul.