Perusahaan teknologi ScaleOcean meluncurkan produk barunya, ScaleOcean Atlas, sebuah sistem ERP atau perangkat lunak pengelolaan operasional perusahaan yang disusun berbeda dari kebanyakan produk sejenis. Alih-alih menjual satu sistem baku untuk semua jenis usaha, Atlas dikonfigurasi mengikuti proses kerja yang memang sudah berjalan di masing-masing perusahaan. Ini menjawab keluhan umum pengguna ERP, yaitu sistem generik yang justru butuh penyesuaian mahal dan sering gagal dipakai karena memaksa cara kerja seragam ke lapangan yang kondisinya berbeda-beda.

Alasan pendekatan ini, menurut ScaleOcean, karena alur kerja tiap sektor usaha memang tidak bisa disamakan satu sama lain. Perusahaan manufaktur punya kebutuhan yang jauh berbeda dari perusahaan logistik, begitu pula sektor konstruksi yang tidak bisa memakai logika bisnis distribusi barang. Perbedaan mendasar semacam ini yang dijadikan alasan mengapa sistem perlu dibangun spesifik per industri, bukan satu format untuk semua.

Dalam praktiknya, Atlas menyediakan rangkaian modul berbeda untuk tiap sektor. Untuk manufaktur, sistem menyambungkan perencanaan permintaan, proses produksi, kontrol kualitas, hingga perhitungan biaya dalam satu tempat. Untuk bisnis distribusi, modulnya menyelaraskan pengadaan barang, pengelolaan banyak gudang, dan pencatatan keuangan secara otomatis. Sektor logistik mendapat modul pengelolaan armada hingga penagihan biaya angkut, sementara sektor konstruksi mendapat modul manajemen proyek, subkontraktor, dan kontrol anggaran. Seluruh data dari berbagai modul ini tersimpan dalam satu sistem terpusat, sehingga manajemen bisa memantau kondisi perusahaan secara real time, sementara tiap divisi tetap memiliki akses sesuai kewenangannya masing-masing.

CEO ScaleOcean, Christopher Linkoln, mengatakan perusahaan besar membutuhkan lebih dari sekadar sistem yang lengkap fiturnya. Ia menyebut kebutuhan itu adalah teknologi yang memahami cara kerja industri penggunanya, bisa mengantisipasi kendala sebelum mengganggu operasional, dan mengubah data harian menjadi informasi yang bisa langsung dipakai untuk mengambil keputusan. Menurutnya, Atlas dibangun sebagai satu platform terintegrasi yang bisa terus disesuaikan dengan proses, skala, dan arah bisnis penggunanya, bukan perangkat lunak kaku yang memaksa bisnis menyesuaikan diri dengan sistem.