PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) melaporkan laba bersih Rp2,33 triliun untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, turun 24,6 persen dari Rp3,10 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba per saham ikut turun dari Rp477 menjadi Rp363. Laporan keuangan interim kuartal ketiga 2026 ini belum diaudit dan disampaikan perseroan ke Bursa Efek Indonesia melalui surat bernomor 198/SMMA/X/2026.

Pendapatan konsolidasian perusahaan induk jasa keuangan Sinarmas ini turun 8 persen menjadi Rp27,38 triliun dari Rp29,77 triliun. Penurunan laba sebelum pajak sebenarnya lebih kecil, yaitu Rp783 miliar atau 24,8 persen menjadi Rp2,38 triliun, tetapi tertekan oleh dua pos yang menyusut tajam dibanding tahun lalu: keuntungan dari penjualan saham investasi senilai Rp2,35 triliun yang tercatat pada sembilan bulan 2025 tidak muncul lagi tahun ini, dan keuntungan dari kenaikan nilai wajar efek anjlok dari Rp1,41 triliun menjadi hanya Rp33 miliar. Di sisi lain, pendapatan bunga dan bagi hasil justru naik 3,1 persen menjadi Rp4,02 triliun, dan pos pendapatan lain-lain melonjak dari Rp2,00 triliun menjadi Rp4,81 triliun sehingga menahan penurunan laba agar tidak lebih dalam.

Di sisi aset, jumlah aset perseroan naik 7,6 persen menjadi Rp129,50 triliun per akhir September 2026, dari Rp120,39 triliun pada akhir 2025. Jumlah liabilitas juga naik 7,1 persen menjadi Rp101,21 triliun, antara lain karena munculnya liabilitas baru dari efek yang dijual dengan janji dibeli kembali senilai Rp2,64 triliun yang sebelumnya tidak ada, serta kenaikan liabilitas kontrak asuransi dari Rp25,87 triliun menjadi Rp28,75 triliun. Jumlah ekuitas naik 9,2 persen menjadi Rp28,29 triliun, tetapi rasio imbal hasil terhadap ekuitas (ROE) turun dari 12,02 persen menjadi 8,24 persen dan rasio imbal hasil terhadap aset (ROA) turun dari 2,57 persen menjadi 1,80 persen.