Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) menyampaikan materi Paparan Publik Insidentil yang akan digelar pada 20 Oktober 2026 melalui webinar Zoom, menyusul permintaan Bursa Efek Indonesia (BEI) kepada perseroan. Paparan ini wajib digelar setelah BEI menghentikan sementara (suspensi) perdagangan saham SMMT pada 1 Oktober 2026 untuk mendinginkan harga, yang dikenal dengan istilah cooling down, akibat kenaikan harga saham kumulatif yang signifikan.

Berdasarkan materi yang disampaikan, harga saham SMMT melonjak 76,4 persen dari awal September 2026 di level Rp1.995, dan naik 68,4 persen sejak BEI mengumumkan status Unusual Market Activity pada 3 September 2026 saat harga Rp2.090. Volume transaksi sempat melonjak hingga 4,15 juta saham pada 16 September 2026, sebelum harga saham mencapai puncak Rp3.520 menjelang suspensi pada 1 Oktober 2026. Perseroan menyebut kenaikan ini dipicu oleh kinerja operasional yang tumbuh, harga batu bara yang tetap tinggi, serta ekspektasi investor atas pertumbuhan laba tahun 2026.

Secara kinerja, Grup mencatat penjualan bersih US$61,59 juta hingga kuartal kedua 2026, naik 14 persen dibandingkan periode sama tahun lalu, namun laba bersih justru turun 3 persen menjadi US$3,81 juta. Dari sisi operasional, produksi batu bara sepanjang 2026 turun 538.000 ton atau 32 persen dibandingkan 2025, karena izin kerja tambang (RKAB) milik PT Triaryani baru terbit akhir Maret 2026 dan tidak ada produksi sama sekali dari tambang PT Internasional Prima Coal di Kalimantan Timur sepanjang tahun ini. Volume penjualan sepanjang 2026 tercatat 1,28 juta ton, dengan porsi penjualan domestik mencapai 25 persen dari total.

Perseroan merupakan produsen batu bara termal dengan dua aset tambang yang beroperasi, yakni PT Triaryani di Sumatera Selatan dan PT Internasional Prima Coal di Kalimantan Timur. Pemegang saham pengendali SMMT adalah Geo Energy Resources Limited, melalui PT Geo Energy Investama, sejak 20 Oktober 2023.