PT Soho Global Health Tbk (SOHO) melaporkan pendapatan Rp8,28 triliun untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, naik 4,4 persen dari Rp7,92 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih perusahaan naik lebih tajam, 27 persen, dari Rp440,09 miliar menjadi Rp558,75 miliar. Laba per saham dasar turut naik dari Rp34,68 menjadi Rp44,02. Laporan keuangan interim yang tidak diaudit ini ditandatangani oleh Presiden Direktur Harry Salam dan Direktur Lucky Setiawan pada 28 Oktober 2026.

Kenaikan laba ditopang oleh perbaikan margin. Laba usaha melonjak 34,97 persen menjadi Rp700,95 miliar, sementara EBITDA naik 32 persen menjadi Rp752,01 miliar. Namun arus kas dari aktivitas operasi justru turun dari Rp702,04 miliar menjadi Rp598,47 miliar, seiring piutang usaha pihak ketiga yang membesar dari Rp1,99 triliun menjadi Rp2,27 triliun. Kas dan setara kas perusahaan susut Rp348,54 miliar sepanjang sembilan bulan, dari Rp1,10 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp755,59 miliar pada akhir September 2026, terutama karena pembayaran dividen tunai Rp921,42 miliar, jauh lebih besar dari pembayaran dividen Rp300,79 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Total aset perusahaan tercatat Rp5,84 triliun per akhir September 2026, turun dari Rp6,16 triliun pada akhir 2025, sejalan dengan total liabilitas yang turun dari Rp3,57 triliun menjadi Rp3,19 triliun. Ekuitas naik tipis menjadi Rp2,65 triliun, dengan rasio lancar membaik dari 163 persen menjadi 174 persen. Bisnis SOHO dijalankan lewat tiga anak usaha yang beroperasi penuh, yaitu PT Soho Industri Pharmasi (farmasi, berdiri 1951, aset Rp858,83 miliar), PT Parit Padang Global (distribusi farmasi sejak 2009, aset terbesar yakni Rp5,43 triliun), dan PT Universal Health Network (penjualan langsung berjenjang sejak 2009, aset Rp34,05 miliar), sementara satu anak usaha lain, PT Soho Global Medika, belum beroperasi.