PT Sunindo Pratama Tbk (SUNI) menyampaikan surat jawaban atas permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia terkait laporan keuangan per 30 Juni 2026. Dalam surat bertanggal 11 September 2026 yang ditandatangani Direktur Freddy Soejandy, perseroan mengonfirmasi penjualan turun 25,99 persen dan laba turun 35,60 persen pada semester I 2026. Anak usaha PT Petro Synergy Manufacturing (PSM) masih merugi karena baru mulai produksi komersial akhir 2025, dengan total aset turun 14,72 persen menjadi Rp38,04 miliar. Sunindo sudah menyuntik modal Rp13,2 miliar dari rencana total Rp22 miliar ke PSM, dan membuka opsi divestasi jika ke depan profitabilitasnya dinilai tidak memuaskan.

Piutang usaha perseroan justru naik 9,33 persen menjadi Rp100,76 miliar meski penjualan turun, karena ada pengiriman barang dalam jumlah besar di akhir periode laporan. Yang mencolok, piutang yang telat dibayar lebih dari 60 hari melonjak 609,19 persen, namun manajemen tidak menambah cadangan kerugian karena yakin pelanggan akan melunasi. Sunindo mengklaim Rp82 miliar atau 82 persen dari saldo piutang per 30 Juni 2026 sudah tertagih. Di sisi utang, utang usaha naik 155,04 persen menjadi Rp69,50 miliar, didominasi kewajiban dalam yuan Tiongkok Rp47,65 miliar dan dolar AS Rp9,68 miliar untuk pembelian mesin pabrik baru PT Rainbow Tubulars Manufacture (RTM 2) senilai investasi total Rp504 miliar, yang ditargetkan beroperasi komersial kuartal IV 2026 setelah memperoleh sertifikat API. Rincian pemasok utama pabrik ini adalah Join Power Co Ltd Rp32,49 miliar, Taiyuan North Heavy Industry Machinery Rp10,97 miliar, Chengdu Best Diamond Bit Rp9,49 miliar, Shanxi Chuangqi Industry Rp5,13 miliar, Lixicon Indonesia Rp1,54 miliar, Asia Bangun Pertama Rp1,14 miliar, serta pemasok lain di bawah Rp1 miliar senilai gabungan Rp8,74 miliar.

Dari sisi kas, saldo kas dan setara kas naik 38,49 persen menjadi Rp159,64 miliar, dengan porsi dolar AS di Bank UOB Indonesia melonjak dari Rp33,20 juta menjadi Rp80,62 miliar karena bunganya lebih tinggi, meski langkah ini turut menyumbang rugi selisih kurs Rp413,43 miliar pada semester I 2026. Perseroan menyatakan seluruh rasio keuangan yang disyaratkan kreditur perbankan terpenuhi per 30 Juni 2026, yakni rasio lancar 323 persen (syarat minimal 100 persen), rasio utang terhadap modal 34 persen (maksimal 250 persen), rasio cakupan pelunasan utang 377 persen (minimal 110 persen), kekayaan bersih Rp896 miliar, dan rasio utang bank terhadap laba operasional 180 persen (maksimal 300 persen). Perseroan juga menegaskan dividen tunai Rp25 miliar sesuai RUPST 22 Juni 2026 berasal dari kas SUNI sendiri, bukan dari RTM yang terikat pembatasan dividen ke krediturnya, sehingga tidak memerlukan persetujuan tertulis bank.