PT Sunindo Pratama Tbk (SUNI) menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 kepada Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan pada 28 Oktober 2026. Perusahaan yang bergerak di industri pipa baja ini mencatat penjualan Rp528,55 miliar selama sembilan bulan, turun sekitar 26 persen dari Rp714,77 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Laba bersih periode berjalan ikut turun sekitar 19 persen, dari Rp145,98 miliar menjadi Rp117,71 miliar, sehingga laba per saham dasar turun dari Rp60,13 menjadi Rp48,94 per lembar.
Di tengah penurunan penjualan itu, arus kas bersih dari aktivitas operasi justru naik dari Rp103,75 miliar pada sembilan bulan 2025 menjadi Rp167,50 miliar pada periode yang sama tahun ini. Kas dan setara kas perusahaan per akhir September 2026 tercatat Rp139,34 miliar, naik dari Rp115,28 miliar pada akhir 2025. Sepanjang periode ini perusahaan membagikan dividen kas Rp25 miliar, separuh dari Rp50 miliar yang dibagikan pada periode yang sama tahun lalu, serta melunasi cicilan utang bank Rp25,2 miliar. Total ekuitas naik dari Rp863,13 miliar menjadi Rp955,81 miliar, sementara total liabilitas turun dari Rp255,25 miliar menjadi Rp247,38 miliar, dengan utang bank jangka panjang turun dari Rp151,70 miliar menjadi Rp126,02 miliar.
Pemegang saham pengendali Sunindo Pratama adalah Soe To Tie Lin, perseorangan warga negara Indonesia yang juga menjabat Komisaris Utama, didampingi Harry Wiguna sebagai Komisaris Independen. Direksi perusahaan dipimpin Willy Johan Chandra sebagai Direktur Utama bersama Freddy Soejandy sebagai Direktur. Perusahaan mengonsolidasikan dua entitas anak di sektor manufaktur, yaitu PT Rainbow Tubulars Manufacture di Batam dengan kepemilikan 99,96 persen dan total aset Rp933,47 miliar, serta PT Petro Synergy Manufacturing di Jakarta dengan kepemilikan 60 persen dan total aset Rp37,62 miliar.
