PT Venteny Fortuna International Tbk (VTNY) menyampaikan tanggapan resmi kepada Bursa Efek Indonesia atas permintaan penjelasan terkait laporan keuangan per 30 Juni 2026 dan 31 Desember 2025. Dalam surat bernomor 003/VFI/ACCT/X/2026 yang ditandatangani Direktur Kaleb Solaiman, perseroan mengakui laporan keuangannya memperoleh opini wajar dengan pengecualian karena auditor tidak mengaudit dua entitas anak di luar negeri, Venteny Pte. Ltd. di Singapura dan Venteny GK di Jepang. Perseroan beralasan mayoritas transaksi kedua entitas itu sudah terdistribusi ke VTNY, PT Venteny Matahari Indonesia (VMI), dan PT Lampung Berkah Finansial Teknologi yang memang diaudit, sehingga auditor dianggap tidak membutuhkan data langsung dari kedua entitas tersebut.
Perseroan juga menjelaskan beberapa pos keuangan lain yang dipertanyakan bursa. Biaya jasa profesional dibayar di muka senilai Rp17,51 miliar per akhir 2025, yang habis menjadi nihil pada Juni 2026, ternyata seluruhnya merupakan komisi atas fasilitas pinjaman yang diperoleh perseroan. Obligasi senilai JPY200 juta berbunga 10 persen per tahun yang diterbitkan Venteny Pte. Ltd. kembali diperpanjang jatuh temponya, kali ini sampai akhir Desember 2026 dengan bunga tertunggak JPY23,95 juta, setelah dua kali perpanjangan sebelumnya dari jatuh tempo awal 30 Agustus 2024. Obligasi ini tidak tercatat di bursa efek manapun. Kenaikan beban pemasaran sebesar Rp1,45 miliar disebut berasal dari sponsorship ajang Super GT di Jepang senilai JPY44 juta pada 30 Maret 2026, sementara belanja iklan konvensional justru dipangkas drastis dari Rp1,97 miliar menjadi Rp4,34 juta.
Soal realisasi dana hasil penawaran umum saham yang totalnya mencapai lebih dari Rp240 miliar, perseroan merincikan Rp131,19 miliar dipinjamkan ke anak usaha VMI dengan bunga 8 persen per tahun, yang jatuh temponya kini diperpanjang sampai 31 Desember 2026 dan sudah menyumbang pendapatan bunga Rp10,49 miliar. Sebesar Rp49,97 miliar dipakai untuk pengembangan sistem IT termasuk Super-App, VENTENY Management System, Loan Origination System, dan infrastruktur cloud. Dana Rp56,22 miliar untuk pengembangan produk mencakup Rp40,1 miliar investasi 30 persen saham di PT Digitalisasi Perangkat Indonesia pada 20 Desember 2023, yang membawahi platform dompet digital Dipay dan platform pendanaan Indofund, investasi yang menurut bursa tidak disebutkan secara spesifik dalam prospektus. Sisanya Rp3,1 miliar dipakai menyewa kantor perwakilan di Palembang, Surabaya, dan Jepang. Perseroan menyebut integrasi Dipay membuat biaya payment gateway turun dari sekitar Rp2.500 menjadi Rp1.000 per transaksi.
