Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo meminta investor tidak hanya mengandalkan penilaian lembaga indeks internasional seperti MSCI, FTSE Russell, atau Bloomberg dalam mengambil keputusan di pasar modal. Menurutnya, penilaian itu bisa dijadikan salah satu referensi, tetapi keputusan akhir harus didasarkan pada perhitungan sendiri karena menyangkut uang investor itu sendiri. Pernyataan ini disampaikan dalam podcast Penjaga Harapan yang membahas sikap sejumlah lembaga pemeringkat indeks terhadap pasar modal Indonesia.

Dradjad menekankan bahwa keputusan investasi sebaiknya mempertimbangkan kinerja perusahaan, valuasi saham, dan prospek fundamental ekonomi Indonesia, bukan semata sentimen yang beredar di pasar. Ia juga menyinggung perlunya pembenahan berkelanjutan di pasar modal, termasuk peningkatan transparansi, penguatan tata kelola, penegakan aturan, serta keterbukaan informasi mengenai kepemilikan saham. Pemerintah disebut terus membuka komunikasi dengan lembaga indeks dan pelaku pasar untuk mendorong perbaikan tersebut.

Sebagai modal ketahanan pasar, Dradjad menyoroti pentingnya memperkuat basis investor domestik, yang menurutnya perlu didukung ekosistem investasi yang sehat dan kepastian aturan. Ia juga menyinggung data pertumbuhan ekonomi nasional pada semester I 2026 yang mencapai 5,45 persen, dengan 17 dari 38 provinsi tumbuh di atas rata-rata nasional dan 7 provinsi di antaranya tumbuh di atas 6 persen. Angka ini disebut menunjukkan adanya sumber pertumbuhan di berbagai daerah yang perlu terus dioptimalkan.

Ke depan, pemerintah menyatakan akan melanjutkan deregulasi dan debirokratisasi untuk memperbaiki iklim usaha dan menjaga kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional.