PT Wahana Pronatural Tbk (WAPO) menyampaikan penjelasan resmi kepada Bursa Efek Indonesia menanggapi surat permintaan penjelasan BEI tertanggal 28 September 2026. Penjelasan yang diteken Corporate Secretary Iwan Setiawan ini menjawab sejumlah pertanyaan bursa seputar piutang dan utang usaha pihak berelasi, piutang usaha pihak ketiga yang menua lebih dari 120 hari, klasifikasi properti investasi, liabilitas sewa, liabilitas imbalan kerja, penjualan bersih, pendapatan sewa, serta pendapatan keuangan perseroan.

Soal piutang pihak berelasi, WAPO menjelaskan saldo piutang kepada PT Inasentra Unisatya naik dari Rp2,32 miliar per 31 Desember 2025 menjadi Rp2,88 miliar per 30 Juni 2026. Perusahaan mengakui ada kesalahan redaksi di catatan atas laporan keuangan nomor 29, karena piutang itu sebenarnya berasal dari tagihan sewa gedung pabrik, bukan piutang usaha penjualan barang, dan berjanji memperbaikinya pada laporan periode berikutnya. Di sisi utang pihak berelasi, saldo kepada PT Sumber Kurnia Alam sudah dilunasi penuh senilai Rp19.617.297.813 pada 22 Juli 2026. Untuk piutang usaha pihak ketiga yang sudah lewat jatuh tempo 120 hari, perseroan menyatakan telah mengevaluasi riwayat pembayaran dan kemampuan pelanggan, dan menilai cadangan kerugian penurunan nilai yang sudah dibentuk masih memadai. Perseroan juga mengakui belum menghitung ulang liabilitas imbalan kerja karyawan selama semester pertama 2026, karena perhitungan baru akan dilakukan oleh konsultan aktuaria pada akhir tahun lewat jurnal penyesuaian audit.

Mengenai penjualan, WAPO merinci komposisi penjualan bersih periode berjalan yang didominasi kopi senilai Rp610,67 miliar, diikuti rumput laut Rp21,54 miliar, gula Rp5,72 miliar, permen Rp2,24 miliar, spare part permen Rp162,2 juta, dan beras Rp76,7 juta, dengan total Rp640,41 miliar. Kenaikan penjualan pihak ketiga terutama datang dari pelanggan PT Santos Jaya Abadi dan PT Fastrata Buana, namun perseroan menegaskan ini bukan karena kontrak baru melainkan kenaikan jumlah pesanan dari pelanggan lama. Pendapatan sewa properti investasi juga naik karena kenaikan tarif sewa dan penambahan jumlah penyewa, sementara pendapatan keuangan bersih tercatat hanya Rp14,37 juta setelah dikurangi beban administrasi bank dan pajak jasa giro. Perseroan memastikan belum ada rencana menerbitkan saham atau efek bersifat ekuitas baru dalam 12 bulan ke depan, serta tidak ada kejadian material lain yang berpotensi memengaruhi kelangsungan usaha atau harga sahamnya.