PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) menyampaikan materi Public Expose Tahunan 2026 kepada Bursa Efek Indonesia pada Senin, 28 September 2026, menjelang acara paparan publik yang dijadwalkan Kamis, 1 Oktober 2026 pukul 10.00-11.00 WIB secara daring melalui Zoom. Acara ini akan dihadiri jajaran direksi WIKA, dipimpin Direktur Utama I Ketut Pasek Senjaya Putra, dengan materi disampaikan melalui Corporate Secretary Mahendra Vijaya.
Dalam materi tersebut, WIKA mengungkapkan bahwa realisasi kontrak baru perusahaan turun 65,47 persen pada 2025 dibandingkan 2018, penurunan yang menurut manajemen berdampak langsung pada turunnya pendapatan dan uang tunai yang masuk ke perusahaan. Sepanjang 2025, nilai kontrak yang masih dikerjakan tercatat Rp50,52 triliun dengan pendapatan Rp13,33 triliun. Per Agustus 2026, WIKA masih mengerjakan 71 proyek, termasuk sejumlah proyek strategis nasional dan proyek di kawasan Ibu Kota Nusantara, dengan total nilai kontrak dihadapi Rp40,25 triliun.
Dari sisi keuangan, piutang usaha WIKA turun 45,74 persen dan utang usaha turun 30,48 persen pada kuartal II 2026 dibandingkan kuartal II 2024, sementara utang berbunga turun lebih tipis, 10,52 persen pada periode yang sama. Margin laba kotor naik menjadi 14,11 persen pada kuartal II 2026, dari 8,07 persen pada kuartal II 2025. Manajemen menargetkan penjualan non-joint operation Januari-Desember 2026 senilai Rp13,60 triliun dengan asumsi laba kotor Rp1,25 triliun, dan menyebut perseroan perlu melakukan restrukturisasi keuangan untuk mencapainya.
Untuk mengatasi tekanan keuangan ini, WIKA memaparkan program penyehatan yang mencakup renegosiasi tenor pinjaman dan penurunan bunga sesuai kemampuan bayar perusahaan, percepatan penagihan piutang dan klaim proyek, serta rencana divestasi saham pengendali di sejumlah anak usaha dan perusahaan asosiasi yang bukan bisnis inti untuk mengurangi potensi kerugian. Manajemen menyebut perseroan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk menuntaskan proses penyehatan dan memenuhi kewajiban pembayaran utang.
