PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) melaporkan ke Bursa Efek Indonesia hasil Public Expose Live Tahunan 2026 yang digelar secara virtual lewat Zoom dan YouTube pada Kamis, 1 Oktober 2026, dari pukul 10.00 hingga 11.00 WIB, dilanjutkan sesi konferensi pers hingga 11.35 WIB. Acara dihadiri jajaran direksi, yakni Direktur Utama I Ketut Pasek Senjaya Putra, Direktur Keuangan Mulyadi, Direktur Manajemen Sumber Daya Manusia dan Transformasi Hadjar Seti Adji, Direktur Operasi I Hananto Aji, Direktur Operasi II Sonny Setyadhy, dan Direktur Manajemen Risiko dan Legal Vera Kirana, dengan Corporate Secretary Ngatemin sebagai moderator. Peserta yang hadir di luar manajemen dan karyawan tercatat 866 orang, termasuk 13 perwakilan media.

Dalam sesi tanya jawab, manajemen membuka sejumlah angka kunci. Target perolehan kontrak baru WIKA hingga akhir 2026 sesuai RKAP sebesar Rp21,4 triliun, diarahkan ke proyek pemerintah seperti Program Sekolah Rakyat dan Sekolah Terintegrasi, proyek EPCC, serta proyek di Timor Leste dan penyediaan beton di Manila. Target margin laba perusahaan dipatok pada kisaran 8 hingga 10 persen, berbeda dari margin laba kotor 14,11 persen yang sempat tercapai pada semester I 2026 karena perusahaan memprioritaskan penagihan piutang lama dan penyelesaian proyek yang hampir rampung. Soal utang, Direktur Keuangan Mulyadi menyebut WIKA di level induk memikul kredit perbankan Rp17,6 triliun dan obligasi sukuk Rp10,2 triliun, dengan total kewajiban berbunga sekitar Rp27 triliun di induk dan sekitar Rp30 triliun secara konsolidasi. Restrukturisasi komprehensif sedang dijalankan melalui RUPO dan RUPSU bersama perbankan serta wali amanat pemegang sukuk dan obligasi, dengan target EBITDA Rp850 miliar untuk membantu memenuhi kewajiban tersebut sekaligus kebutuhan operasional.

Manajemen juga menjawab pertanyaan soal pengalihan pengelolaan proyek kereta cepat Whoosh (KCIC) ke Kementerian Keuangan, dengan menyatakan masih berkomunikasi intensif dengan Danantara mengenai perkembangan proses tersebut. Hasil divestasi, jika terealisasi, disebut dapat memperbaiki posisi keuangan WIKA, dan status suspensi perdagangan saham WIKA di bursa baru dapat dicabut setelah restrukturisasi komprehensif tercapai. Di luar isu keuangan, manajemen memaparkan skor ESG WIKA dari S&P Global sebesar 64 dari 100, peringkat pertama di Indonesia untuk sektor konstruksi dan teknik, yang disebut telah menurunkan bunga pembiayaan modal kerja proyek WIKA Tirta Jatiluhur dari 11 persen menjadi 6,5 persen lewat skema pembiayaan hijau.