PT Artha Mahiya Investama Tbk (AIMS) menyampaikan laporan hasil Public Expose Tahunan 2026 kepada Bursa Efek Indonesia. Acara berlangsung Kamis, 17 September 2026 pukul 11.00 WIB di Chora 1 dan 2, Level 2 The Tribrata, Darmawangsa Jakarta, serta disiarkan lewat Zoom. Manajemen yang hadir adalah Komisaris Utama Mohammad Rafil Perdana, Komisaris Endru Adhikara, Direktur Utama Calvin Lutvi, Direktur Pandu Andakara, dan Direktur Mohammad Adil Triansyah, sementara Komisaris Independen Akhmad Ali Fahmi tidak hadir. Total peserta dari luar manajemen tercatat 38 orang, terdiri dari 30 orang hadir langsung dan 8 orang lewat Zoom.

Menjawab pertanyaan investor Christ J. Daely soal prospek bisnis 2026 dan 2027, manajemen menjelaskan bahwa AIMS awalnya berbisnis batu bara dan cadangan tambangnya habis (mineout) pada 2025 sehingga beralih ke aktivitas dagang (trading) komoditas. Namun aturan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari perusahaan tambang rekanan membuat usaha trading Perseroan melambat drastis. Sejak akhir tahun lalu, Perseroan mulai merambah bisnis manajemen tambang dan manajemen eksplorasi, dan manajemen menyebut 2026 serta 2027 sebagai periode penting untuk memperkuat fondasi bisnis baru itu.

Pertanyaan paling tajam datang dari investor Arianto, yang mempersoalkan pendapatan Perseroan yang anjlok menjadi Rp93 juta sehingga menyebabkan kerugian besar, kenaikan tajam liabilitas, serta penurunan tajam ekuitas. Manajemen menjelaskan bahwa sepanjang 2025 Perseroan tidak bisa membeli stok komoditas dari mitra tambang sesuai rencana akibat kendala RKAB, sehingga kehilangan peluang pendapatan dari aktivitas trading dan mengalami periode kosong kegiatan usaha. Kondisi itu berujung pada kerugian dan tergerusnya ekuitas Perseroan, dan manajemen menyatakan tengah menjalankan rencana usaha alternatif berupa manajemen tambang dan eksplorasi bersama mitra pemegang izin untuk memperbaiki kinerja ke depan.

Soal keterkaitan bisnis dengan lingkungan dan tanggung jawab sosial, manajemen menyebut Perseroan tidak memiliki izin maupun area tambang sendiri, sehingga kegiatan eksplorasinya dilakukan bersama perusahaan tambang rekanan berdasarkan surat penunjukan, mencakup pemetaan area dan pemanfaatan drone. Perseroan belum memiliki program CSR yang melekat pada satu wilayah tambang karena tidak mengoperasikan tambang sendiri, namun mempekerjakan tenaga kerja lokal harian saat kegiatan eksplorasi berlangsung.