PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menyampaikan laporan keuangan interim yang belum diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan perseroan tercatat Rp46,53 triliun, naik 43,6 persen dibandingkan Rp32,40 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Dari situ, perseroan mencetak laba bersih Rp2,44 triliun, naik dari Rp1,85 triliun. Sebanyak Rp2,21 triliun dari laba itu menjadi hak pemegang saham entitas induk, naik dari Rp1,65 triliun, sementara sisanya menjadi bagian pemegang saham minoritas di anak usaha. Laba per saham dasar naik dari Rp83,50 menjadi Rp111,83.
Dari sisi posisi keuangan per 30 September 2026, total aset AKRA tercatat Rp38,63 triliun, naik dari Rp36,56 triliun pada akhir 2025. Total liabilitas naik menjadi Rp22,38 triliun dari Rp20,95 triliun, sementara total ekuitas naik menjadi Rp16,25 triliun dari Rp15,61 triliun. Namun kas dan setara kas perseroan justru berkurang menjadi Rp5,97 triliun dari Rp6,40 triliun, sementara utang bank jangka pendek melonjak menjadi Rp472,35 miliar dari Rp237,37 miliar. Piutang usaha pihak ketiga juga naik dari Rp9,54 triliun menjadi Rp10,78 triliun seiring kenaikan penjualan.
Selama sembilan bulan ini, AKR Corporindo membagikan dividen Rp2,01 triliun kepada pemegang saham entitas induk. Perseroan juga menuntaskan penjualan kembali seluruh 273.705.000 lembar saham treasuri yang sebelumnya disimpan, senilai Rp328,78 miliar, sehingga saldo saham treasuri turun menjadi nol per akhir September 2026. Laporan ini ditandatangani oleh Presiden Direktur Haryanto Adikoesoemo bersama satu direktur lainnya pada 21 Oktober 2026, dan masih berstatus belum diaudit oleh akuntan publik independen.
